Minggu, 27 Desember 2009

Meningkatkan Kompetensi Membaca Melalui Permainan Tata Suku Kata

PROPOSAL
A.JUDUL
MENINGKATKAN KOMPETENSI MEMBACA PERMULAAN MELALUI PERMAINAN TATA SUKU KATA SISWA SEKOLAH DASAR
(Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya)

B.LATAR BELAKANG
Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di semua jenjang pendidikan mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi memegang peranan penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 bab VII pasal 33 ayat 1, yang berbunyi : “Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional.” Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 bab XI pasal 41, yang berbunyi: “Bahasa pengantar dalam pendidikan nasional adalah Bahasa Indonesia.”
Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kompetensi peserta didik agar mampu berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan. Pembelajaran bahasa yang utama adalah sebagai alat komunikasi. Seorang anak belajar bahasa karena didesak oleh kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang-orang di lingkungan sekitar.
Pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki beberapa keterampilan berbahasa yang harus dimiliki siswa. Keterampilan tersebut menjadi tujuan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Menurut Tarigan (1986: 2) bahwa:
Pada prinsipnya pembelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar siswa terampil berbahasa yang mencakup empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu: (1) terampil membaca, (2) terampil menulis, (3) terampil berbicara, dan (4) terampil menyimak.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa kompetensi membaca merupakan bagian dari keterampilan berbahasa. Oleh karena itu, pendidik harus memberikan motivasi agar kompetensi membaca siswa dapat ditingkatkan. Membaca adalah proses yang sangat kompleks. Membaca melibatkan ingatan, pikiran, daya khayal, pengaturan, penerapan, dan pemecahan masalah seperti (1) kemampuan memahami kata yang terperinci dan kemampuan memahami istilah yang memiliki arti khusus, (2) kemampuan memahami pola kalimat dan bentuk kata, (3) kemampuan menafsirkan dengan tepat lambang atau tanda dalam bentuk tulis, (4) kemampuan memahami gagasan yang mengandung gagasan pokok yang diungkapkan penulis, (5) kemampuan menarik kesimpulan yang tepat, betul, dan nalar tentang apa yang dibaca. Dr. Henry Guntur Tarigan (1983:2) mengungkapkan “Membaca yaitu proses pemerolehan pesan yang disampaikan oleh seorang penulis melalui tulisan.” Pendapat lain dikemukakan oleh A.S. Broto (Tt:58) bahwa “Membaca yaitu mengucapkan lambang bunyi”.
Kompetensi membaca permulaan siswa kelas II SD Negeri Kiarawang harus ditingkatkan karena dalam kehidupan sehari-hari peranan membaca tidak dapat dipungkiri lagi. Ada beberapa peranan yang dapat disumbangkan oleh kegiatan membaca antara lain: kegiatan membaca dapat membantu memecahkan masalah, dapat memperkuat suatu keyakinan/ kepercayaan membaca, sebagai suatu pelatihan, memberi pengalaman estetis, meningkatkan prestasi, memperluas pengetahuan dan sebagainya.
Kenyataan di lapangan berdasarkan hasil observasi penulis di kelas II SD Negeri Kiaralawang, kompetensi membaca siswa masih jauh dari harapan. Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dalam UU No 20 Tahun 2003 bab II pasal 3 sebagai berikut:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Kompetensi membaca permulaan siswa kelas II SD Negeri Kiaralawang harus ditingkatkan karena kompetensi membaca merupakan dasar atau landasan untuk tingkat yang lebih tinggi. Seandainya dasar tersebut kurang kuat, niscaya pengaruhnya cukup besar dan terasa, baik bagi para siswa sendiri atau juga oleh para guru. Oleh sebab itu, peranan guru kelas II memegang peranan penting dalam bidang pengajaran Bahasa Indonesia khususnya membaca. Tanpa memiliki kemampuan membaca yang memadai sejak dini, maka anak akan mengalami kesulitan belajar di kemudian hari. Kemampuan membaca menjadi dasar yang utama, tidak saja bagi pengajaran Bahasa Indonesia sendiri, tetapi bagi pengajaran mata pelajaran lain. “Dengan mendapatkan pengajaran membaca siswa akan memperoleh pengetahuan yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan daya nalar, sosial, dan emosinya” (Depdikbud, 1996:2).
Salah satu cara untuk meningkatkan kompetensi membaca adalah menggunakan permainan bahasa. Cara ini sesuai dengan karakteristik siswa kelas II SD yang masih berada dalam tahap masa bermain. Namun, guru kurang menguasai permainan bahasa terutama permainan tata suku kata, sehingga kompetensi membaca kurang dikuasai siswa. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “MENINGKATKAN KOMPETENSI MEMBACA PERMULAAN MELALUI PERMAINAN TATA SUKU KATA SISWA SEKOLAH DASAR” (Penelitian Tindakan Kelas pada Kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya.)

C.PERUMUSAN MASALAH
1.Identifikasi dan Analisis Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan-permasalahan yang timbul berkaitan dengan rendahnya kompetensi membaca siswa kelas II SD Negeri Kiaralawang dapat diidentifikasi berikut ini.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya masih rendah dikarenakan oleh beberapa factor penyebab. Faktor yang menyebabkan timbulnya permasalahan pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kompetensi membaca permulaan di kelas II SD Negeri Kiaralawang diantaranya, faktor guru, siswa, dan sarana penunjang pembelajaran.
Masalah yang muncul berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengajarkan keterampilan membaca di kelas II SD Negeri Kiaralawang, yaitu kompetensi guru dalam merancang dan mengoperasionalkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2006. RPP yang dirancang guru dengan baik akan meningkatkan keberhasilan siswa, karena pembelajarannya dapat terarah sehingga tujuan yang dirumuskan akan tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
Masalah yang muncul berhubungan dengan kompetensi membaca permulaan siswa kelas II SD Negeri Kiaralawang, yaitu rendahnya kompetensi membaca siswa karena proses pembelajarannya yang tidak menarik. Oleh karena itu, digunakanlah sebuah permainan tata suku kata untuk meningkatkan kompetensi membaca permulaan siswa.

2.Rumusan Masalah
a.Rumusan Masalah Secara Umum
Berdasarkan uraian latar belakang dan identifikasi masalah di atas, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.
“Bagaimana meningkatkan kompetensi membaca permulaan melalui permainan tata suku kata siswa kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya.”
b.Rumusan Masalah Secara Khusus
Adapun rumusan masalah secara khususnya adalah sebagai berikut.
1)Bagaimana perencanaan pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi membaca permulaan melalui permainan tata suku kata siswa kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya ?
2)Bagaimana proses pembelajaran dalam meningkatkan kompetensi membaca permulaan melalui permainan tata suku kata siswa kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya ?
3)Bagaimana peningkatkan kompetensi membaca permulaan melalui permainan tata suku kata siswa kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya ?

D.TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.Tujuan Umum Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang penggunaan permainan tata suku kata dalam meningkatkan kompetensi membaca permulaan siswa SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya.
2.Tujuan Khusus Penelitian
Secara khusus penelitian ini bertujuan.
a. Mengetahui perencanaan pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi membaca permulaan siswa melalui permainan tata suku kata di kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya.
b.Mengetahui proses pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi membaca permulaan siswa melalui permainan tata suku kata di kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya.
c.Mengetahui hasil pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi membaca permulaan siswa melalui permainan tata suku kata di kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya.

E.MANFAAT PENELITIAN
Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini diharapkan dapat berguna bagi semua pihak, terutama bagi pihak yang terkait langsung dalam kegiatan penelitian. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.Bagi Penulis
Hasil penelitian tindakan kelas ini dapat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan merencanakan, memilih, dan menggunakan strategi yang tepat dalam peningkatan keterampilan membaca. Selain itu, penelitian ini akan menambah wawasan terutama dalam penggunaan permainan tata suku kata untuk meningkatkan kompetensi membaca permulaan siswa kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya.
2.Bagi Siswa
Dengan adanya penelitian tindakan kelas ini dapat meningkatkan kompetensi membaca permulaan siswa kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya.
3.Bagi Sekolah
Memberikan kontribusi yang bermakna untuk sekolah sehingga mutu pendidikannya meningkat.

F. LANDASAN TEORI
1. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
Hakikat pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di Sekolah Dasar merupakan salah satu bentuk penerapan kurikulum yang berlaku di SD saat ini. Menurut Kurikulum, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dilaksanakan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia pada seluruh jenjang pendidikan formal. Untuk itu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia merupakan bentuk penerapan mata pelajaran bahasa Indonesia dari kelas I sampai kelas VI Sekolah Dasar.
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran umum yang ada di pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Adanya mata pelajaran ini, dimaksudkan agar siswa mampu berbahasa dan berkreatifitas, serta mampu berkomunikasi menggunakan bahasa lisan maupun tulisan. Hal ini sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas : 317), yang menyatakan bahwa.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.

Standar kompetensi yang terdapat dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia harus bisa dikuasai oleh peserta didik, karena standar kompetensi merupakan suatu pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratkan, ditetapkan dan disepakati bersama dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap bagi peserta didik. Hal ini sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas : 317), yang menyatakan bahwa.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.

Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan.
1. Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri.
2. Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar.
3. Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya.
4. Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah.
5. Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia.
6. Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional. (Depdiknas : 317).

2. Hakikat Membaca di Sekolah Dasar
Pada hakikatnya membaca merupakan proses memahami dan merekonstruksi makna yang terkandung dalam bahan bacaan. Pesan atau makna yang terkandung dalam teks bacaan merupakan interaksi timbal balik, interaksi aktif, dan interaksi dinamis antara pengetahuan dasar yang dimiliki pembaca dengan kalimat-kalimat, fakta, dan informasi yang tertuang dalam teks bacaan.
Membaca adalah proses aktif dari pikiran yang dilakukan melalui mata terhadap bacaan. Dalam kegiatan membaca, pembaca memproses informasi dari teks yang dibaca untuk memperoleh makna (Vacca, 1991: 172). Membaca merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari-hari, karena membaca tidak hanya untuk memperoleh informasi, tetapi berfungsi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan bahasa seseorang. Dengan demikian, anak sejak kelas awal SD perlu memperoleh latihan membaca dengan baik khususnya membaca permulaan.
a. Pengertian Membaca Permulaan
Keterampilan berbahasa ada empat, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Membaca dapat dilihat sebagai suatu proses dan sebagai hasil. Membaca sebagai suatu proses merupakan semua kegiatan dan teknik yang ditempuh oleh pembaca yang mengarah pada tujuan melalui tahap-tahap tertentu (Burn,1985 dalam Haryadi dan Zamzani, 1997:32). Sedangkan membaca sebagai hasil, berupa dicapainya komunikasi pikiran dan perasaan penulis dengan pembaca. Komunikasi itu terjadi karena terdapat kesamaan pengetahuan dan asumsi antara pembaca dan penulis.
Membaca merupakan rangkaian kegiatan yang bertahap dan berkesinambungan. Rangkaian membaca itu dibedakan menjadi.
1. Tahap prabaca, pembaca menyiapkan sumber atau bahan bacaan.
2. Tahap baca, pembaca melaksanakan kegiatan membaca di suatu ruang (tempat) dengan alokasi waktu tertentu.
3. Tahap pascabaca, pembaca memberikan respons atau tanggapan terhadap isi atau pesan yang dibacanya (Tarigan, 1986; Supriyadi,1994; Zuchdi, 1997; Thachir, 1993; Syafi’ie, 1981).
Membaca merupakan sebuah proses memahami simbol-simbol verbal yang berupa tulisan bermakna. Para ahli telah mendefinisikan pengertian membaca. Namun, tidak ada criteria tertentu yang menganggap definisi itu paling benar. Menurut Kridalaksana (dalam Haryadi dan Zamzani, 1997:32), Membaca adalah “Keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis dan perubahannya menjadi wicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras”. Selain itu Harris dan Sipay (dalam Novi dan Tatat, 2006:107) ‘Membaca merupakan proses memperoleh makna dari cetakan’.
Di lain pihak, Gibbon (1993 : 70-71) mengartikan membaca sebagai “Proses interaksi yang menyangkut sebuah interaksi antara teks dengan pembaca”. Pembaca yang telah lancar pada umumnya meramalkan apa yang dibacanya dan kemudian menguatkan atau menolak ramalannya itu berdasarkan apa yang terdapat dalam bacaan. Berdasarkan pengertian membaca menurut para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses interaksi antara pembaca dengan teks bacaan.
Membaca permulaan pada intinya merupakan suatu upaya dari orang-orang dewasa untuk memberikan dan menampilkan anak pada sejumlah pengetahuan dengan keterampilan khusus dalam rangka mengantarkan anak mencapai mampu membaca. Membaca permulaan adalah salah satu aspek keterampilan berbahasa yang diperuntukkan siswa sekolah dasar kelas awal. Akhadiah (1933:33) mengemukakan bahwa, “Membaca permulaan hanya berlangsung dua tahun, yaitu untuk SD kelas 1 dan 2. Bagi siswa kelas 1 dan 2 membaca adalah kegiatan belajar mengenal bahasa tulis.
b. Pembelajaran Membaca di Sekolah Dasar
Secara umum pengajaran membaca di SD dibedakan berdasarkan jenjang kelas dan jenis keterampilan membaca. Bagi siswa kelas I dan kelas II dengan jenis keterampilan membaca teknis (membaca nyaring), diistilahkan dengan membaca permulaan. Pembelajaran membaca permulaan di SD mempunyai nilai yang strategis bagi pengembangan kepribadian dan kemampuan siswa. Pengembangan kepribadian dapat ditanamkan melalui materi teks bacaan (wacana, kalimat, kata, suku kata, huruf/bunyi bahasa) yang berisi pesan moral, nilai pendidikan, nilai sosial, nilai emosional-spiritual, dan berbagai pesan lainnya sebagai dasar pembentuk kepribadian yang baik pada siswa. Akhadiah (dalam Zuchdi dan Budiasih 1996/1997:49) menyatakan bahwa melalui pembelajaran membaca, guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral, kemampuan bernalar dan kreativitas anak didik.

c. Tujuan Membaca Permulaan
Hakikat membaca yang telah diuraikan tersebut dapat dikemukakan bahwa kegiatan membaca mempunyai berbagai macam tujuan dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang yang akan melakukan kegiatan membaca tentu mempunyai maksud mengapa dia perlu membaca teks tersebut yang selanjutnya dapat mengambil manfaat setelah kegiatan membaca berlangsung. Manfaat kegiatan membaca antara lain (1) sebagai media rekreatif; (2) media aktualisasi diri; (3) media informatif; (4) media penambah wawasan; (5) media untuk mempertajam penalaran; (6) media belajar suatu keterampilan, (7) media pembentuk kecerdasan emosi dan spiritual; dsb.

d. Permainan Bahasa
Permainan merupakan alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya, dari yang tidak dikenali sampai pada yang diketahui, dan dari yang tidak dapat diperbuatnya sampai mampu melakukannya. Bermain bagi anak memiliki nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari. Manusia bermain sepanjang rentang kehidupannya dalam setiap kebudayaan yang ada. Hurlock (1997), menyatakan bahwa “Bermain adalah kegiatan yang dilakukan atas dasar suatu kesenangan dan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Kegiatan tersebut dilakukan secara sukarela, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak luar”. Riberman (1977), Garvey (1990), Neuman (1971), dan Schwartzman (1978) menyatakan pendapatnya bahwa simulasi kreatif (permainan atau play);
(1) bukan merupakan suatu pekerjaan yang nyata (manipulatif), (2) memiliki tiga elemen (criteria, proses, tujuan), (3) kegiatan fisikal yang spontan dan sukarela, (4) tidak produktif, (5) hal yang menyenangkan/ menggembirakan, (6) motivasinya intrinsic, (7) tidak memiliki tujuan akstrinsik, (8) melibatkan aktif pelakunya, dan (9) merupakan spontanitas fisik, social, dan kognitif (dalam Resmini, 1996).

Penelitian Lisa A Wing dari Syracuse University (1995) menunjukkan bahwa anak membedakan bermain dan bekerja. Bermain bagi anak berkaitan dengan peristiwa, situasi, interaksi, dan aksi. Bermain mengacu pada aktivitas seperti berlaku pura-pura dengan benda, sosiodrama, dan permainan yang beraturan. Bermain berkaitan dengan tiga hal, yakni keikutsertaan dalam kegiatan, aspek afektif, dan orientasi tujuan.
Permainan bahasa merupakan permainan untuk memperoleh kesenangan dan untuk melatih keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis). Apabila suatu permainan menimbulkan kesenangan tetapi tidak memperoleh keterampilan berbahasa tertentu, maka permainan tersebut bukan permainan bahasa. Sebaliknya, apabila suatu kegiatan melatih keterampilan bahasa tertentu, tetapi tidak ada unsur kesenangan maka bukan disebut permainan bahasa. Dapat disebut permainan bahasa, apabila suatu aktivitas tersebut mengandung kedua unsur kesenangan dan melatih keterampilan berbahasa (menyimak,berbicara, membaca dan menulis).
e. Permainan Tata Suku Kata
Permainan tata suku kata termasuk permainan bahasa yang dapat meningkatkan keterampilan berbahasa. Langkah-langkah permainannya sebagai berikut.
1) Tujuan
• Merangsang kepekaan grafofenemik
• Merangsang minat baca
• Merangsang kepekaan struktur
2) Catatan
• Permainan ini menarik, karena anak mungkin saja membuat kata-kata yang lucu dan membuat mereka tertawa.
3) Alat dan Bahan
• Suku kata terbuka ukuran 6 x 8 cm
• Kertas gambar masing-masing bertulis ba-ca-da-la-ma seperti contoh
ba ca da la ma
• Lem
4) Cara Bermain
• Bagi anak menjadi 5 kelompok. Berikan masing-masing 5 lembar kertas gambar bertulis suku kata ba-ca-da-la-ma.
• Pancing anak untuk mengisi suku kedua pada gambar hingga membentuk kata. “Ba… apa anak-anak?” Tampung jawaban anak, seperti “baru”, “baju”, bata”, “bali, “bara”.
• Persilahkan anak-anak bekerja sama menempelkan suku kata yang dimaksud.
• Perhatikan hasil kerja kelompok yang di depan. Baca bersama-sama. Biarkan anak-anak tertawa jika kata yang dibentuk tidak bermakna, seperti “bamo” atau bazi”. Apresiasi hasil kerja anak dengan mencari kata yang mendekati, seperti “bemo” dan “bayi”.
• Teruskan permainan hingga semua kelompok selesai menempel 5 suku kata kedua.
5) Tindak Lanjut
• Atur tiap kelompok hingga setiap kelompok terdapat anak yang mulai dapat membaca. Proses pembelajaran horizontal akan mendorong anak-anak lain untuk senang membaca.
• Apabila anak-anak dapat melakukan permainan dengan baik, balik permainan dengan mengosongkan suku kata pertama.

G. KERANGKA BERPIKIR
Permainan tata suku kata merupakan salah satu permainan bahasa yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas II SD Negeri Kiaralawang. Digunakannya permainan tata suku kata ini disesuaikan dengan karakteristik siswa SD kelas II yang masih berada dalam masa-masa bermain.

H. ANGGAPAN DASAR
Permainan tata suku kata dapat meningkatkan kompetensi membaca permulaan siswa kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya.

I. HIPOTESIS TINDAKAN
Jika permainan tata suku kata digunakan dalam pembelajaran membaca permulaan, maka dapat meningkatkan kompetensi membaca permulaan siswa kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya.

J. METODE PENELITIAN
1. Model Penelitian Tindakan Kelas
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas model Kemmis dan MC. Taggart. Pertimbangan yang mendasari penelitian dengan menggunakan metode ini, karena langkah-langkah penelitian cukup sederhana, sehingga mudah dipahami dan dilaksanakan oleh peneliti. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkat kompetensi membaca permulaan siswa kelas II SD Negeri Kiaralawang.
Desain Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan MC. Taggart dikenal dengan sistem spiral refleksi terdiri dari beberapa tahapan. Ruswandi, dkk (2007:128) mengemukakan tahapan tersebut sebagai berikut: “perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi”.

2. Setting Penelitian
a. Lokasi Penelitian
Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di SD Negeri Kiaralawang. Sekolah Dasar ini terdapat di Kampung Kiaralawang Desa Sarimukti Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya. SD Negeri Kiaralawang ini masih tergolong ke dalam SD yang berada di daerah terpencil. Adapun yang menjadi alasan memilih lokasi tersebut karena: (1) Kepala sekolah maupun pejabat yang terkait telah memberikan ijin kepada peneliti untuk melakukan penelitian tersebut, (2) Sekolah tersebut merupakan tempat peneliti mengabdikan diri sebagai tenaga guru sukwan.

b. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas 2 SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya.
1) Guru Kelas II SD Negeri Kiaralawang
a) Nama : Dede Taufik
b) Pendidikan : D2 PGSD
2) Siswa Kelas II SD Negeri Kiaralawang
a) Laki-laki : 12
b) Perempuan : 10

c. Definisi Operasional
Kompetensi adalah kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik.
Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal.
Permainan tata suku kata adalah salah satu permainan bahasa yang menggunakan kertas yang bertuliskan suku kata.
d. Fokus Tindakan
Variabel penelitian yang menjadi fokus tindakan untuk pemecahan permasalahan yang diteliti, yaitu.
1) Variabel input, yaitu: pertama: peningkatan kompetensi membaca permulaan menggunakan permainan tata suku kata. Kedua: kompetensi awal siswa dalam membaca permulaan sebelum menggunakan permainan tata suku kata.
2) Variabel proses, yaitu: proses peningkatan kompetensi membaca permulaan dengan menggunakan permainan tata suku kata, termasuk di dalamnya tindakan-tindakan khusus yang dilakukan guru untuk memfasilitasi siswa dalam meningkatkan kompetensi membaca permulaan.
3) Variabel output dalam tindakan penelitian ini adalah: Pertama, peningkatan penguasaan guru dalam menggunakan permainan tata suku kata. Kedua, peningkatan kompetensi membaca permulaan siswa setelah serangkaian tindakan pembelajaran reflektif.

3. Prosedur Penelitian
a. Orientasi dan Identifikasi Masalah
Orientasi dan identifikasi masalah merupakan tahap awal dalam kegiatan penelitian. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah sebagai berikut.
1) Melakukan kegiatan orientasi dengan perhatian berfokus pada perencanaan peningkatan membaca permulaan di kelas II SD Negeri Kiaralawang.
2) Mengidentifikasi proses pelaksanaan peningkatan membaca permulaan di kelas II SD Negeri Kiaralawang.
b. Perencanaan Tindakan Penelitian
1) Penentuan Siklus Penelitian
Perencanaan yang peneliti lakukan berawal dari permintaan izin kepada Kepala Sekolah SD Negeri Kiaralawang UPTD Pendidikan Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmlaya. Siklus tindakan penelitian direncanakan dalam tiga siklus, sebagaimana dijelaskan di atas bahwa jenis siklus PTK yang dipergunakan ialah model Kemmis dan Mc Taggart. Alur umum pelaksanaan penelitian tindakan kelas, seperti gambar 1 di bawah ini:
Siklus Penelitian Tindakan Kelas

Rencana
Umum

Refleksi
Pembelajaran 1
dan Observasi 1
Perbaikan
Rencana
Refleksi 2

Pembelajaran 2
dan Observasi 2
Perbaikan
Rencana
Refleksi 3
Pembelajaran 3
dan Observasi 3
Keputusan
Gambar 1
Alur Siklus PTK

2) Penetapan teknik pelaksanaan tindakan penelitian
Teknik pelaksanaan tindakan penelitian terdiri dari empat kegiatan, yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Namun, PTK yang digunakan dalam model Kemmis dan Taggart yaitu kegiatan tindakan dan observasi dilaksanakan secara serempak.

3) Penetapan instrumen tindakan penelitian
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam tindakan penelitian ini adalah.
a) Observasi
Observasi merupakan suatu pengamatan yang dilakukan dengan teliti san sistematis untuk tujuan tertentu.
b) Tes
Tes adalah sebuah alat atau prosedur sistematik bagi pengukuran sebuah contoh perilaku.
c) Catatan Lapangan
Catatan Lapangan digunakan sebagai pengumpul data dalam penilaian kualitatif untuk mencatat kejadian-kejadian selama proses berlangsung.
c. Pelaksanaan Tindakan Penelitian
1) Tindakan pembelajaran siklus I
a) Menyusun perencanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya dalam aspek membaca.
b) Melaksanakan proses pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya dalam aspek membaca.
c) Merefleksi pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya dalam aspek membaca.
2) Tindakan Pembelajaran Siklus II
a) Menyusun perencanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya dalam aspek membaca, berdasarkan hasil refleksi dari pembelajaran siklus I.
b) Melaksanakan proses pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya dalam aspek membaca, berdasarkan hasil refleksi dari pembelajaran siklus I.
c) Merefleksi pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya dalam aspek membaca, berdasarkan hasil refleksi dari pembelajaran siklus II.
3) Tindakan Pembelajaran Siklus III
a) Menyusun perencanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya dalam aspek membaca, berdasarkan hasil refleksi dari pembelajaran siklus II.
b) Melaksanakan proses pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya dalam aspek membaca, berdasarkan hasil refleksi dari pembelajaran siklus II.
c) Merefleksi pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Kiaralawang Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya dalam aspek membaca, berdasarkan hasil refleksi dari pembelajaran siklus III serta mengevaluasi hasil tindakan secara keseluruhan.
d) Mengadakan refleksi dan review secara keseluruhan.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan lembar observasi, tes, dan catatan lapangan. Data yang diperoleh dengan teknik-teknik tersebut dikumpulkan secara bertahap pada setiap pelaksanaan pembelajaran.
5. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat analisis kualitatif. Prosesnya, antara lain : data yang diperoleh dikategorikan dan diklasifikasikan berdasarkan analisis yang nyata, logis dan mudah dipahami. Data hasil penelitian dan pengamatan, selanjutnya diidentifikasi kelemahan dan kelebihannya serta dikonsultasikan kepada rekan kolaborasi. Hasilnya kemudian disusun menjadi kesimpulan-kesimpulan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam upaya mencapai hasil tindakan yang lebih baik.

6. Tim Peneliti dan Tugasnya
PTK ini dilaksanakan peneliti yang merupakan guru kelas II pada SD Negeri Kiaralawang. Peneliti tampil mengimplementasikan permainan tata suku kata dalam meningkatkan kompetensi membaca permulaan. Sejak pengidentifikasian masalah hingga penelitian berakhir akan dilibatkan seorang peneliti mitra. Peneliti mitra ini bertugas sebagai observer dan salah seorang mitra dalam proses triangulasi untuk keperluan refleksi.
7. Kriteria Keberhasilan
Adapun kriteria keberhasilan membaca siswa ditentukan dengan rentang nilai 0-100, sebagai berikut :
a. Yang mendapat nilai ≤ 50 = Jelek
b. Yang mendapat nilai 51 - 60 = kurang
c. Yang mendapat nilai 61 - 70 = cukup
d. Yang mendapat nilai 71 - 80 = baik
e. Yang mendapat nilai 81 - 100 = sangat baik
K. Jadwal Kegiatan
Adapun jadwal Penelitin Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan mulai Bulan Desember 2009 sampai dengan Bulan April 2010, dengan jadwal sebagai berikut :
Tabel 1.1
Jadwal Penelitian
KEGIATAN BULAN
Desember Januari Februari Maret April
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
A. Persiapan
- Observasi awal
- Pengajuan Judul
- Konsultasi judul
- Penyusunan Proposal
B. Palaksanaan
- Pembuatan Instrumen
- Pembelajaran Siklus
C. Laporan
- Penulisan Skripsi Bab I – V
L. SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI
Judul
Pernyataan Keaslian Skripsi
Kata Pengantar
Abstrak
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Lampiran
Bab I Pendahuluan
Bab II Kajian Pustaka
Bab III Metode Penelitian
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab V Kesimpulan dan Saran
Daftar Pustaka
Lampiran-Lampiran
Riwayat Hidup Penulis

DAFTAR PUSTAKA

Haryadi dan Zamzani. 1997. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Kunandar, S.Pd., M.Si. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Muchlisoh, dkk. 1997. Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Universitas Terbuka.

Novi, R., Tatat H., dan Isah C. 2009. Pembinaan dan Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: UPI Press.

Novi, R., dan Tatat H. 2006. Kapita Selekta Bahasa Indonesia. Bandung: UPI Press.

Ruswandi H., Mujono, dan Suherman. 2007. Metode Penelitian Pendidikan SD. Bandung: UPI Press.

Supriyasi, dkk. 1996. Pendidikan Bahas Indonesia 2. Jakarta: Universitas Terbuka.

Tadkiroatun Musfiroh. 2008. Cerdas Melalui Bermain. Yogyakarta: PT Grasindo.

Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas. Bandung : Fokus Media

Universitas Pendidikan Indonesia. 2008. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Tasikmalaya, jawa barat, Indonesia
blog ini saya gunakan sebagai curahan perasaan dan sedikit pengetahuan. disini saya simpan beberapa pengetahuan yang mudah2an bermanfaat.