Minggu, 27 Desember 2009

MENINGKATKAN SISWA DALAM MENULIS MELALUI TEKNIK PENYELESAIAN CERITA

PROPOSAL

A. Judul
“MENINGKATKAN SISWA DALAM MENULIS MELALUI TEKNIK PENYELESAIAN CERITA” (Penelitian Tindakan Kelas pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya).

B. Latar Belakang Masalah
Pada hakikatnya fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir, mengungkapkan gagasan, perasaan, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa dan kemampuan memperluas wawasan. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia haruslah diarahkan pada hakikat Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai alat komunikasi.
Dalam hubungannya dengan pengajaran bahasa, menurut Owens (dalam Soenardji dan Hartono 1998:102) menulis adalah menggabungkan sejumlah kata menjadi kalimat yang baik dan benar menurut tata bahasa, dan menjalinnya menjadi wacana yang tersusun. Selain itu, O’Hare (dalam Soenardji dan Hartono 1998:102) juga berpendapat bahwa pekerjaan menulis merupakan pekerjaan yang berdasarkan kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman belajar. Masyarakat mempercayakan pemberian tentang penyuluhan bahasa untuk mendapatkan pengalaman belajar sehingga diperoleh kemampuan yang dapat diaktualisasikan sebagai keterampilan menulis yang benar-benar dapat diandalkan di kalangan masyarakat. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia meliputi keterampilan berbahasa dan keterampilan bersastra. Keterampilan berbahasa meliputi empat aspek keterampilan yaitu keterampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Keempat aspek keterampilan ini dalam pelaksanaannya saling berkaitan.
Sebagai suatu bentuk ekspresi berbahasa, menulis memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda dengan bentuk ekspresi lainnya yaitu berbicara. Dalam kehidupan sehari-hari kegiatan menulis bukanlah sekedar menulis prosa (mengarang). Menurut Halliday (dalam Triyanto 2002:1) tujuan berbahasa tercermin dalam berbagai jenis teks. Setiap teks sesuai dengan tujuannya memiliki karakteristik yang berbeda, misalnya jenis huruf yang digunakan, jenis kalimat, struktur teks, dan organisasi teks. Ini berarti bahwa pengajaran menulis di sekolah bukan hanya menulis wacana yang berbentuk paragraf, namun juga bentuk-bentuk lainnya yang berbentuk non paragraf.
Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang penting dalam kehidupan, baik dalam kehidupan pendidikan maupun masyarakat. Keterampilan menulis perlu diperhatikan karena merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh siswa. Dengan menulis siswa dapat mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan atau pendapat, pemikiran, dan perasaan yang dimiliki.
Selain itu, dapat mengembangkan daya pikir dan kreativitas siswa dalam menulis. Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Menulis merupakan suatu kegiatan yang aktif dan produktif serta memerlukan cara berpikir yang teratur yang diungkapkan dalam bahasa tulis. Keterampilan seseorang untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman sebagai suatu keterampilan yang produktif.
Sebagai seorang siswa hendaknya memiliki keterampilan menulis yang merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dimulai dari tingkat pendidikan dasar sampai dengan perguruan tinggi. Keterampilan yang sifatnya fungsional bagi pengembangan diri dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu menulis perlu mendapatkan perhatian yang serius dalam pengajaran.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sekarang ditetapkan sebagai Kurikulum 2006 telah diberlakukan di sekolah-sekolah mulai tahun 2006. Kurikulum 2006 ini juga diterapkan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ditegaskan bahwa tugas sebagai guru adalah membelajarkan siswa, bukan mengajar. Siswalah yang harus didorong agar aktif berlatih menggunakan bahasa pada keterampilan menulis.
Tugas guru adalah menciptakan situasi dan kondisi agar siswa belajar secara optimal untuk berlatih menggunakan bahasa agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Berkaitan dengan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, dalam Kurikulum 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tertulis. Standar kompetensi bahasa dan sastra Indonesia yang merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain itu, standar kompetensi adalah dasar bagi siswa untuk dapat memahami dan mengakses perkembangan lokal, regional, dan global.
Pada kesempatan ini, peneliti membahas tentang keterampilan menulis khususnya menulis melalui teknik penyelesaian cerita. Berdasarkan hasil observasi, keterampilan siswa untuk menulis masih sangat terbatas, terlebih lagi untuk dapat menulis melalui teknik penyelesaian cerita mereka kesulitan untuk dapat membedakan jenis-jenis cerita. Agar dapat menulis kadang-kadang siswa perlu dipacu dengan menggunakan teknik dan media yang menarik. Untuk itu guru perlu mencari upaya yang dapat membuat siswa tertarik agar siswa dapat menulis dengan baik.
Dalam menulis melalui teknik penyelesaian cerita dibutuhkan adanya ketelitian, kepaduan, keruntutan dan kelogisan antara kalimat satu dengan kalimat yang lain, antara paragraf dengan paragraf berikutnya sehingga akan membentuk sebuah cerita yang baik dan utuh. Pengajaran menulis, khususnya menulis melalui teknik penyelesaian cerita.
Menurut hasil observasi dan wawancara peneliti dengan guru bahasa dan sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya, peneliti menentukan berbagai masalah yang muncul sebagai akibat dari rendahnya keterampilan menulis siswa. Sesuai dengan kondisi di lapangan bahwa, berbagai masalah itu antara lain berkaitan dengan alokasi waktu pembelajaran menulis yang lebih sedikit dibandingkan dengan alokasi waktu untuk keterampilan berbahasa yang lain. Selain itu, siswa merasa belum mampu menyusun kalimat dengan struktur kalimat, bahasa yang baik dan benar. Keadaan ini mengakibatkan tidak efektifnya pembelajaran menulis di kelas.

Keterampilan menulis di Kelas II SD Negeri dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya masih sangat rendah. Setelah penulis amati dengan saksama ketidakberhasilan itu terjadi karena beberapa faktor. Faktor-faktor yang mengakibatkan rendahnya keterampilan menulis penyelesaian cerita di Kelas II SD Negeri dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya, antara lain karena (1) siswa kurang memahami ciri-ciri cerita serta cara menuangkan ide atau gagasan secara tepat; (2) siswa kurang memperhatikan dan menganggap mudah pokok bahasan ini dan jarangnya seorang guru menggunakan media pembelajaran sebagai media penyampaian materi pada siswa; (3) pada umumnya guru jarang menggunakan media pembelajaran pada saat penyampaian materi, sehingga para siswa menjadi cepat jenuh dan semakin tidak berminat untuk menulis, dan banyak siswa beranggapan bahwa keterampilan menulis itu adalah keterampilan yang paling sulit karena mereka sulit untuk mengawali kalimat dalam sebuah paragraf. Selain itu, setelah peneliti melakukan wawancara dan observasi langsung kepada guru bahasa dan sastra Indonesia, guru mengakui dan merefleksi bahwa selama ini belum pernah menggunakan media pembelajaran. Sehingga siswa merasa jenuh dan bosan karena pembelajaran yang diberikan guru kurang menarik dan bersifat monoton.
Dari berbagai faktor dan kenyataan seperti itu, masih dapat diatasi oleh guru dengan cara guru harus sering memberikan bimbingan, latihan, dan motivasi pada siswa untuk menulis, sehingga siswa dapat menuangkan ide, atau gagasan dalam bentuk tulisan dengan baik. Bimbingan yang diberikan oleh guru kepada peserta didik atau siswa adalah bimbingan secara intensif atau secara sungguh-sungguh dan terus menerus sehingga memperoleh hasil yang optimal.
Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan mengambil judul proposal yaitu penelitian : “MENINGKATKAN SISWA DALAM MENULIS MELALUI TEKNIK PENYELESAIAN CERITA” (Penelitian Tindakan Kelas pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya).

C. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan-permasalahan yang timbul berkaitan dengan rendahnya keterampilan menulis paragraf deskripsi dapat diidentifikasi berikut ini.
Siswa Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya dalam pembelajaran menulis masih dikatakan rendah dan hal ini disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor guru dan faktor siswa. Faktor dari guru, yaitu (1) Penjelasan materi yang disampaikan guru sulit dipahami oleh siswa; (2) Teknik mengajar yang digunakan guru dalam pembelajaran kurang menarik dan membosankan. Faktor dari siswa, yaitu (1) Kurangnya minat siswa untuk mengikuti pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia; (2) Kurangnya pemahaman siswa tentang hakikat paragraf deskripsi yang sebenarnya; (3) Kurangnya latihan menulis dan siswa bingung atau kesulitan dalam memulai suatu tulisan.
Untuk mengatasi masalah pertama yang terdapat pada guru, sebaiknya metode atau teknik pembelajaran yang selama ini digunakannya diubah. Selain itu, guru lebih banyak berkomunikasi dengan siswa menanyakan hal-hal yang belum dipahami serta memberikan kesempatan untuk bertanya. Sedangkan, untuk mengatasi masalah faktor pada siswa yang kurang berminat mengikuti pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, karena menganggap pelajaran tersebut membosankan, meremehkan, dan tanpa belajar pun siswa sudah dapat berbahasa Indonesia. Untuk mengubah anggapan yang demikian, guru sebaiknya memberikan arahan dan pengertian kepada siswa bahwa pentingnya pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam kehidupan siswa.
Keberhasilan pembelajaran menulis dipengaruhi oleh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang tidak maksimal dan kurang terprogram dapat mengakibatkan tujuan pembelajaran tidak tercapai dengan baik. Oleh karena itu, seharusnya guru memilih metode, teknik, dan media yang sesuai dengan materi pembelajaran, sehingga siswa mudah menguasai keterampilan menulis. Hal tersebut menuntut guru agar lebih saksama melaksanakan program pengajaran serta memilih media yang cocok dan menarik sehingga memperoleh hasil belajar yang optimal.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana perencanaan pembelajaran menulis melalui teknik penyelesaian cerita pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya?
b. Bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran dalam menulis melalui teknik penyelesaian cerita pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya?
c. Bagaimana hasil belajar siswa dalam menulis melalui teknik penyelesaian cerita pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya?

D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk meningkatkan perencanaan pembelajaran dalam menulis melalui teknik penyelesaian cerita pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya.
2. Untuk meningkatkan proses pelaksanaan pembelajaran dalam menulis melalui teknik penyelesaian cerita pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya.
3. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis melalui teknik penyelesaian cerita pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya.

E. Manfaat Penelitian
Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini diharapkan dapat berguna bagi semua pihak, terutama bagi pihak yang terkait langsung dalam kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Memberikan wawasan pengetahuan dan mengembangkan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, tentang meningkatkan siswa dalam menulis melalui teknik penyelesaian cerita pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
1) Meningkatkan potensi berfikir, minat dan bakat melalui pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
2) Meningkatkan meningkatkan siswa dalam menulis melalui teknik penyelesaian cerita pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
3) Meningkatkan motivasi untuk gemar belajar Bahasa dan Sastra Indonesia dalam menulis melalui teknik penyelesaian cerita, sehingga proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
b. Bagi Guru
1) Untuk memperoleh gambaran dan menjadikan suatu alternatif media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
2) Menjadikan dorongan untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan dengan melaksanakan pembelajaran yang bermakna.
3) Memberikan pengalaman dalam mengatasi permasalahan melalui pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas.
c. Bagi Kepala Sekolah
Merupakan bahan dalam supervisi untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan guru di kelas dan memotivasi guru lain serta tersedianya media pembelajaran untuk melakukan PTK.

F. Landasan Teori
1. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar
Pembelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu mata pelajaran umum agar siswa memiliki kemampuan berBahasa Indonesia yang baik dan benar serta dapat menghayati bahasa dan sastra Indonesia sesuai dengan situasi dan tujuan berbahasa dan tingkat pengalaman siswa. (Depdiknas, 2006:9). Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomuniaksi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas, 2006:231) menyatakan :
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.

Di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas, 2006:231) bahwa dengan standar kompetesi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan:
1) Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri.
2) Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar.
3) Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya.
4) Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah.
5) Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan, dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia.
6) Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat diketahui bahwa pembelajaran bahasa Indonesia merupakan sarana untuk saling berkomunikasi, saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, serta untuk meningkatkan kemampuan intelektual dan kesusastraan sehingga lebih memahami tentang penggunaannya. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia, serta menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sesuai dengan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dan bahasa negara, maka fungsi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah (1) sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa, (2) sarana peningkatkan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, (3) sarana peningkatkan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (4) sarana penyebarluasan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah, (5) sarana pengembangan penalaran, dan (6) sarana pemahaman beragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusastraan Indonesia. (Depdiknas, 2006 : 231).
Berdasarkan fungsi pembelajaran Bahasa Indonesia di atas, bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, karena Bahasa Indonesia adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia dengan benar, baik secara lisan maupun tertulis.
2. Hakikat Menulis
Menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Dapat juga diartikan menulis merupakan berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan dan kehendak kepada orang lain secara tertulis (Suriamiharja 1985:2). Kegiatan menulis dalam dunia pendidikan sangat penting dan berharga sekali, sebab menulis akan lebih mempermudah seseorang untuk berpikir. Menulis merupakan suatu alat yang sangat ampuh dalam belajar yang dengan sendirinya memainkan peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan.
Keterampilan menulis adalah keterampilan yang paling kompleks, karena keterampilan menulis merupakan suatu proses perkembangan yang menuntut pengalaman, waktu, kesepakatan, latihan serta memerlukan cara berpikir yang teratur untuk mengungkapkannya dalam bentuk bahasa tulis. Oleh sebab itu, keterampilan menulis perlu mendapat perhatian yang lebih dan sungguh-sungguh sebagai salah satu aspek keterampilan berbahasa.
Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan dan pengetahuan. Dalam kegiatan menulis ini, maka penulis haruslah terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Disebut sebagai kegiatan produktif karena kegiatan menulis menghasilkan tulisan, dan disebut sebagai kegiatan yang ekspresif karena kegiatan menulis adalah kegiatan yang mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan pengetahuan penulis kepada pembaca (Tarigan 1983:3-4).
3. Teknik Pembelajaran Menulis Cerita
Berdasarkan butir-butir pembelajaran menulis di kelas rendah SD terdapat ragam teknik pembelajaran menulis. Teknik pembelajaran menulis dikelompokkan menjadi dua, yakni menulis cerita dan menulis untuk keperluan sehari-hari.
Menulis cerita, teknik ini terdiri atas 6 macam, yaitu: 1) menyusun kaiimat. Teknik menyusun cerita dapat dilakukan dengan: (a) menjawab pertanyaan, (b) melengkapai kalimat, (c) memperbaiki susunan kalimat, (d) memperluas kailimat, (e) subtitusi, (f) transfomtasi, dan (g) membuat kaiimat; (2) Teknik memperkenalkan cerita: (a) baca dan tulis, (b) simak dan tulis; (3) meniru model; (4) menyusun paragaf; (5) menceritakan kembali; dan (6) membuat.
Model pembelajaran menulis cerita/cerpen di SD meliputi: menceritakan gambar, melanjutkan ceria lain, menceitakan mimpi, menceriakan pengalaman, dan menceritakan cita-cita. Menceritakan gambar Model ini dapat dilakukan mulai kelas 2 SD. Guru memperlihatkan beberapa gambar, selanjutnya, siswa diminta mengamati gambar tersebut dengan teliti. Kemudian, mereka diminta untuk menyelesaikannya ke dalam cerita lengkap.

G. Kerangka Berpikir
Salah satu ruang lingkup standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia SD yaitu aspek menulis. Menulis secara efektif dan efisien berbagai jenis karangan dalam berbagai konteks serta berapresiasi sastra dalam berbagai jenis dan bentuk melalui kegiatan menulis hasil sastra. Seperti menulis huruf, suku kata, kalimat, paragraf dengan tulisan yang rapi dan jelas, menulis sederhana, berbagai petunjuk, teks percakapan, surat pribadi dan surat resmi dengan memperhatikan tujuan dan ragam pembaca dan menggunakan ejaan dan tanda baca serta kosa kata yang tepat. Kompetensi menulis juga diarahkan menumbuhkan kebiasaan menulis. (BSNP, 2006 : 18).
Pembelajaran menulis melalui teknik penyelesaian cerita dimaksudkan untuk meningkatkan imajinasi siswa sebagai bahan belajar yang dijadikan sebagai kajian empirik melalui percobaan, studi banding dan sebagainya. Dengan memanfaatkan sumber-sumber dalam kegiatan belajar dan mengajar, dan meningkatkan daya imajinasi siswa dalam menulis cerita.

H. Anggapan Dasar
Anggapan dasar merupakan gambaran bahwa asumsi dapat dipandang sebagai sebuah panduan dalam rangka pemecahan suatu masalah Menurut Surakhmad (1998 : 6) menjelaskan, asumsi/anggapan dasar adalah titik tolak pemikiran yang kebenarannya dapat diterima oleh peneliti sendiri. Hal tersebut memberikan gambaran atau anggapan dasar dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dirumuskan sebagai berikut :
a. Penggunaan media pembelajaran merupakan salah satu dari model pembelajaran yang mampu meningkatkan pemahaman dan partisifasi siswa secara aktif yang ada kaitannya dengan menulis cerita.
b. Pembelajaran menulis melalui teknik penyelesaian cerita pada pembelajaran Bahasa dan Sasrta Indonesia berfungsi lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

I. Hipotesis Tindakan
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin atau paling tinggi tingkat kebenarannya. Hipotesis dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah : “Jika pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi dengan optimal dan efektif dalam menulis melalui teknik penyelesaian cerita, maka hasil belajar siswa akan meningkat”.

J. Metode Penelitian
1. Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Metode yang akan digunakan dalam penelitian adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart. Pertimbangan yang mendasari penelitian metode ini, karena langkah-langkah penelitian cukup sederhana, sehingga mudah dipahami dan dilaksanakan oleh peneliti. Dengan kata lain, model dan teknik PTK tidak bersifat kaku, sehingga sesuai dengan kemampuan peneliti dan alokasi waktu yang tersedia.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat dimasukan ke dalam penelitian yang berjenis kualitatif. Sebab dalam PTK ketika data akan dianalisis digunakanlah pendekatan kulaitatif tanpa adanya perhitungan statistik dan penelitian ini diawali dengan adanya perencanaan, adanya perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi terhadap hasil yang dicapai sesudah adanya perlakuan. Sedangkan bentuk PTK yang dilaksanakan adalah PTK kolaboratif, yang menghadirkan suatu kerjasama yang baik dengan pihak-pihak lain seperti Kepala Sekolah sesama guru dan sebagainya. Kesemuanya itu diharapkan dapat dijadikan sumber data, karena Penelitian Tindakan Kelas merupakan bagian dari situasi dan kondisi dari suatu latar yang ditelitinya. Guru tidak hanya sebagai pengamat, tetapi dia juga terlibat langsung dalam proses ituasi dan kondisi. Bentuk kerjasama atau kolaborasi diantara para anggota, situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan suatu proses penelitian itu dapat berlangsung dengan baik (Kasbolah, 1998 : 123)
PTK ini dilaksanakan dalam bentuk proses berdaur (siklus). Setiap siklus terdiri dari tahapan (fase) : perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Berikut digambarkan ikhtisar siklus tindakan pada penelitian ini :
Bagan Model Dasar Siklus PTK
Menurut Kemmis dan Taggart (dalam Kasbolah, 1998 : 124)

Identifikasi Masalah Perumusan Rencana Siklus I
siklus I


Tindakan & Observasi

Perumusan Rencana Siklus II
Siklus II



Tindakan & Observasi


Simpulan

Alur Siklus PTK (Model Kemmis dan Tagart)
2. Setting Penelitian
a. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya. Alasan lokasi penelitian ini antara lain : (1) Baik guru dan Kepala Sekolah maupun pejabat yang terkait memberikan izin dilaksanakannya penelitian di SDN tersebut, (2) Lokasi penelitian dekat dengan tempat tinggal.
b. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini ialah guru dan siswa Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya. Jumlah siswa kelas VI sebanyak 39 orang, yang terdiri dari 18 orang laki-laki dan 21 orang perempuan.
c. Variabel Penelitian
Variabel adalah kondisi-kondisi atau karakteristik-karakteristik oleh peneliti, di kontrol atau di observasi. Agar variabel tersebut dapat terukur variabel tersebut di definisikan kedalam bentuk rumusan yang lebih operasional (Faisal, 1982 : 82-83). Variabel penelitian dalam PTK terdiri dari variabel Input, variabel proses dan variabel output (Tim Pelatih PGSM, 1995: 65). Variabel-variabel tersebut dirumuskan dalam definisi operasional sebagai berikut :
1) Variabel Input
a) Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kemampuan menulis melalui teknik penyelesaian cerita sebelum diberikan tindakan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran.
b) Kemampuan awal guru dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kemampuan menulis melalui teknik penyelesaian cerita sebelum diberikan tindakan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran.
2) Variabel Proses
Serangkaian tindakan guru dan pembelajaran dengan menggunakan media gambar seri, termasuk di dalamnya tindakan-tindakan khusus yang dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan menulis melalui teknik penyelesaian cerita pada pembelajaran Bahasa Indonesia.
3) Variabel Output
a) Peningkatkan penguasaan guru dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran.
b) Peningkatan hasil pembelajaran Bahasa Indonesia pada kemampuan menulis melalui teknik penyelesaian cerita setelah serangkaian tindakan yang efektif.
d. Definisi Operasional Variabel
1) Pembelajaran Menulis
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan sesuatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang tersebut kalau mereka memahami bahasa gambar tersebut. (Tarigan, 1996 : 2)


2) Menulis Cerita
Cerita menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1996 : 277), adalah runtunan peristiwa yang dituturkannya menarik. Sedangkan menulis cerita adalah menyusun, merangkai, menggubah tulisan sehingga menjadi sebuah cerita yang diturukannya menarik.
3) Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada penelitian ini adalah pembelajaran pada topik menulis Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya tahun pelajaran 2009/2010.
e. Fokus Tindakan
Fokus Penelitian Tindakan Kelas (PTK), adalah sebagai berikut :
1) Kinerja Guru
a) Meningkatkan perencanaan pembelajaran menulis melalui teknik penyelesaian cerita pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya.
b) Meningkatkan proses pelaksanaan pembelajaran dalam menulis melalui teknik penyelesaian cerita pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya.
2) Aktivitas dan Hasil belajar Siswa
a) Meningkatkan kemampuan menulis pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya.
b) Meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis melalui teknik penyelesaian cerita pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya.
3. Prosedur Penelitian
a. Orientasi dan Identifikasi Masalah
Pada tahap ini guru kelas mengorientasi dan mengidentifikasi masalah yang merupakan tahap awal dalam kegiatan penelitian. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah sebagai berikut :
1) Melakukan kegiatan orientasi dengan penelitian berfokus dalam menganalisis perencanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya pada materi menulis.
2) Mengidentifikasi pengalaman mengelola proses pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya pada materi menulis terutama berkaitan dengan kelemahan dan hambatan yang dialami guru kelas.
3) Melihat hasil belajar siswa tentang pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya pada materi menulis sebelumnya.
b. Perencanaan Tindakan Penelitian
1) Penentuan siklus tindakan penelitian
Siklus tindakan penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, sebagaimana dijelaskan di atas bahwa jenis PTK yang akan digunakan adalah model Kemmis dan Taggart.
2) Penetapan teknik pelaksanaan tindakan penelitian
Teknik pelaksanaan tindakan penelitian terdiri dari empat kegiatan, yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Namun, PTK yang digunakan dalam model Kemmis dan Taggart yaitu kegiatan tindakan dan observasi dilaksanakan secara serempak.
3) Penetapan instrumen tindakan penelitian.
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam tindakan penelitian ini adalah :
a) Tes tertulis dilakukan pada awal dan akhir pembelajaran tes yang dilakukan pada awal pembelajaran disebut pretest dengan tujuan untuk mengetahui konsepsi awal pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran sebelum dilakukan tindakan, sedangkan test yang dilakukan di akhir pembelajaran disebut postest dengan tujuan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran setelah dilakukan tindakan.
b) Observasi, observasi dalam kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran, baik bersifat umum, maupun khusus yang berkenaan dengan aspek-aspek proses pendekatan yang dikembangkan. Aspek yang di observasi diantaranya ialah aktivitas siswa dalam belajar dan aktifitas guru dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.

c. Pelaksanaan Tindakan Penelitian
1) Tindakan pembelajaran siklus I
a) Menyusun perencanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya pada materi menulis terhadap pengalaman.
b) Melaksanakan proses pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya pada materi menulis melalui teknik penyelesaian cerita.
c) Merefleksi pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya pada materi menulis. Hasil refleksi siklus pembelajaran I dijadikan bahan bagi tindakan pembelajaran pada siklus selanjutnya.
2) Tindakan Pembelajaran Siklus II
a) Menyusun perencanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya pada materi menulis untuk siklus II berdasarkan hasil refleksi pada pembelajaran siklus I.
b) Melaksanakan proses pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya pada materi menulis siklus II, berdasarkan hasil refleksi dan upaya perbaikan terhadap pembelajaran siklus I.
c) Refleksi hasil pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SD Negeri Dadaha 1 Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya pada materi menulis pada pembelajaran siklus II serta mengevaluasi hasil tindakan keseluruhan.
d) Mengadakan refleksi dan riview secara keseluruhan.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data selama pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas adalah sebagai berikut :
a. Teknik observasi, instrumennya berupa lembar pengamatan terhadap kinerja guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran.
b. Teknik test, instrumennya berupa lembar soal yang harus dijawab siswa setelah pembelajaran berlangsung.
5. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat aalisis kualitatif. Prosesnya, antara lain : data yang diperoleh dikategorikan dan diklasifikasikan berdasarkan analisis yang nyata, logis dan mudah dipahami, sehingga dapat memberikan penjelasan dan makna terhadap hasil penelitiannya.
Data hasil penelitian dan pengamatan, selanjutnya diidentifikasi kelemahan dan kelebihannya serta dikonsultasikan kepada rekan kolaborasi. Hasilnya kemudian disusun menjadi kesimpulan-kesimpulan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam upaya mencapai hasil tindakan yang lebih baik dan memuaskan.
Hasil pelaksanaan tindakan dapat tergambar dari hasil dalam menulis melalui teknik penyelesaian cerita untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada setiap siklus. Hasil pembelajaran siswa dinilai sesuai dengan alat ukur yang telah direncanakan dan ditetapkan pada bagian evaluasi rencana pembelajaran, kemudian dipersentasekan nilai rata-rata dengan skor nilai idealnya.
6. Kriteria Keberhasilan
Adapun kriteria keberhasilan menulis naskah pidato siswa ditentukan dengan rentang nilai 0-100, sebagai berikut :
a. Yang mendapat nilai ≤ 50 = Jelek
b. Yang mendapat nilai 51 - 60 = kurang
c. Yang mendapat nilai 61 - 70 = cukup
d. Yang mendapat nilai 71 - 80 = baik
e. Yang mendapat nilai 81 - 100 = sangat baik

K. Jadwal Penelitian
Adapun jadwal Penelitin Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan mulai Bulan Desember 2009 sampai dengan Bulan April 2010, dengan jadwal sebagai berikut :
Tabel 1.1
Jadwal Penelitian
KEGIATAN BULAN
Desember Januari Februari Maret April
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
A. Persiapan
- Observasi awal
- Pengajuan Judul
- Konsultasi judul
- Penyusunan Proposal
B. Palaksanaan
- Pembuatan Instrumen
- Pembelajaran Siklus
C. Laporan
- Penulisan Skripsi Bab I – V
DAFTAR PUSTAKA

Badudu. (1996) Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

BNSP, (2006), Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Kelas II, Kelompok Kerja Pengawas TK/SD Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya.

Faisal, S. (1982). Metode Penelitian Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.

Hartono, Bambang. (2002). Analisis Kurikulum Evaluasi Keterampilan Membaca dan Menulis. Semarang: Lembaga Penelitian Unnes.

Kasbolah, (1998). PTK. Jakarta Depdikbud.

Fathurrohman, P. (2007). Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Aditama.

Poerwadarminto, W.J.S. (1986). Teknik-teknik Belajar Mengajar. Bandung : Jenmars.

Sagala, S. (2007). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.

Soenardji dan Hartono.(1998). Bambang. Asas-Asas Menulis. Semarang: CV IKIP Semarang Press.

Subroto, S (2002). Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Supriyadi. (1994). Materi Pokok Pendidikan Bahas Indonesia 2. Jakarta : Universitas Terbuka.

Surachman. (1990). Pengantar Interaksi Belajar Mengajar Dasar Teknik Serta Metodologi Pengajaran. Bandung : Tarsito.

Sujana, N (2004). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar baru Algen Sindu.

Tarigan, Henry Guntur. (1983). Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tim Pelatih PGSM. (1999). PTK Penelitian. Jakarta : Depdikbud.

Triyanto, Agus. (2002). Pembelajaran Pengembangan dan Evaluasi Keterampilan Menulis. Semarang : Universitas Negeri Semarang.

Triyanto, Agus. (2002). Pembelajaran Pengembangan dan Evaluasi Keterampilan Menulis. Semarang : Universitas Negeri Semarang.
MENINGKATKAN SISWA DALAM MENULIS
MELALUI TEKNIK PENYELESAIAN CERITA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Tasikmalaya, jawa barat, Indonesia
blog ini saya gunakan sebagai curahan perasaan dan sedikit pengetahuan. disini saya simpan beberapa pengetahuan yang mudah2an bermanfaat.