Gagasan Pokok dan Gagasan Pendukung: Pengertian, Ciri, dan Cara Menemukannya

Gagasan Pokok dan Gagasan Pendukung: Pengertian, Ciri, dan Cara Menemukannya

Apa arti gagasan pokok dan gagasan pendukung? Apa saja ciri gagasan pokok dan gagasan pendukung, dan bagaimana cara menemukan gagasan pokok dan gagasan pendukung? Itulah beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan gagasan pokok dan gagasan pendukung.

Untuk memahaminya, yuk simak penjelasan tentang gagasan pokok dan gagasan pendukung yang dikutip dari berbagai sumber berikut ini.

 

Arti Gagasan Pokok dan Gagasan Pendukung

Paragraf Deduktif dan Induktif

Paragraf Deduktif dan Induktif

Sahabat pembelajar, pada kesempatan kali ini kami akan menyajikan artikel tentang Paragraf Deduktif dan Induktif. Artikel ini akan dijelaskan berdasarkan pengertian paragraf deduktif dan induktif, perbedaan paragraf deduktif dan induktif, dan contoh paragraf deduktif dan induktif.

 

Contoh dan Perbedaan Paragraf Deduktif dan Induktif

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kedua

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kedua

I.Konsep Pembelajaran Bahasa Indonesia
A.Sekolah Dasar
Lembaga pendidikan yang memberi kemampuan dasar (yang kuat) bagi siswa.
B.Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD
Pembelajaran yang member kemampuan dasar (yang kuat) untuk berbahasa Indonesia bagi siswa SD.
Pembelajaran Bahasa Indonesia harus sesuai dengan hakikat/ konsep bahasa dan tujuan pembelajaran bahasa bagi siswa SD.
Konsep Belajar Bahasa
Belajar bahasa adalah belajar terampil berbahasa (lisan dan tulisan).
Bahasa adalah alat komunikasi yang berupa ujaran.
C.Hakikat pembelajaran Bahasa Indonesia di SD
Adalah pembelajaran yang mengarah kepada keterampilan berbahasa dan siswa dapat mengapresiasikan.
KB

Belajar sastra adalah belajar mengapresiasi sastra untuk memahami manusia dan nilai-nilai kemanusiaan.
D.Tujuan pembelajaran
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut .
1.Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis.
2.Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara.
3.Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
4.Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5.Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
6.Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Kurikulum Bahasa Indonesia SD
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
•Aspek mendengarkan Kebahasaan
•Aspek berbicara
•Aspek membaca
•Aspek menulis Kesastraan


I.Belajar Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kedua
Belajar bahasa : perolehan bahasa
Pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa berupa pemahaman maupun pengungkapan secara alami (tidak formal).

Pemerolehan bahasa (anak) ditandai :
a)Berlangsung dalam situasi informal
b)Dilakukan tanpa sadar
c)Dialami langsung tanpa konteks berbahasa yang bermakna

Pemerolehan Bahasa Anak
Pemerolehan Bahasa Menyangkut

Performance Kompetensi
(Pemahaman, pelahiran atau pengungkapan) (Kemampuan Berbahasa)

Ciri pemerolehan bahasa anak:
Menurut Gracia
a)Berkesinambungan
b)Satu kesatuan dalam perilaku

Menurut MC. Graw
a)Mendadak/ tiba-tiba
b)Gradual (bertingkat)
Pemerolehan bahasa Perkembangan sosial anak

Faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa Indonesia, yaitu:
aFaktor Biologis
Chomsky : dalam biologis anak ada LAD (Language Acquistion Divices = piranti pemerolehan bahasa).
Perangkat biologi berbahasa (1) otak, (2) alat dengar, (3) alat ucap.
Dalam otak kiri (wilayah broca) = pengontrol produksi bahasa
Dalam otak kanan ( wilayah wernicke) = pengendali pemahaman bahasa
Diantara broca dan wernicke terdapat wilayah motor suplementer = pengendali unsure fisik penghasil ujaran.
b)Faktor lingkungan sosial
Berbahasa perlu orang lain untuk berinteraksi, maka perkembangan sosial anak akan mempengaruhi berbahasa anak.
Cara lingkungan member bahasa melalui :
Bahasa semang (motherese) = penyederhanaan
Para frase = pengungkapan yang berbeda
Menghasilkan kembali (echoing) = mengulang
Memperluas (expanding) = pengungkapan lebih kompleks
Menamai (labeling) = mengidentifikasi nama-nama benda
Pemodelan (modeling) = membuat model atau contoh

c)Faktor Intelegensi
Faktor intelegensi seseorang itu berbeda-beda ada yang tinggi, sedang, dan rendah.

d)Faktor Motivasi
Anak berbahasa dipengaruhi oleh motivasinya. Anak yang motivasinya tinggi akan mampu berbahasa dengan baik.

Motivasi berbahasa anak:
-Motivasi dari dalam (intrinsik)
Karena kebutuhan dasar untuk berkomunikasi
-Motivasi dari luar (ekstrinsik)
Karena pengaruh dari orang lain.

Tahap-tahap perkembangan bahasa anak:
Umur Tahap
0 – 1 Tahun Pralinguistik
1 – 1,5 Tahun Satu kata
1,5 – 2 Tahun Dua kata
2 – 5 Tahun Banyak kata

Tahap pralinguistik
0 -2 Bulan Bunyi refleksi (lapar, sakit)
2 – 5 Bulan Bunyi vokal + konsonan
5 – 7 Bulan Bunyi vokal + konsonan (lebih lama)
7 – 12 Bulan Berceloteh (pa pa pa, mam mam mam, dsb.)

Strategi pemerolehan bahasa pertama
1.Mengingat
2.Imitasi (peniruan)
3.Mengalami langsung (menghasilkan bahasa dalam komunikasi)
4.Umpan balik (produksi ujara dengan merespon)
5.Operasi (pemakaian bahasa dalam komunikasi)
6.Bermain
7.Penyederhanaan

Pemerolehan bahasa setelah bahasa pertama (bahasa Ibu) = pembelajaran bahasa kedua.
Strategi belajar bahasa kedua
1.Perencanaan
2.Aktif
3.Empatik
4.Formal
5.Eksperimental
6.Komunikatif
7.Monitor
8.Internalisasi

Prinsip-Prinsip Pembelajaran Bahasa:
1)Humanisme
Prinsip hakikat manusia apabila mengajarkan bahasa harus memperhatikan manusia yaitu:
•Manusia berbekal yang sama. Misalnya hidung, mata , telinga dan sebagainnya, tapi ada yang cacat. Namun semua itu mendapat kesempatan berbahasa.
•Manusia memiliki minat tertentu, dan keinginan setiap orang dalam memperoleh bahasa berbeda-beda.
•Manusia memiliki persamaan dan perbedaan.
2)Progresifisme
Apabila mengajarkan bahasa harus maju berkelanjutan. Artinya belajar bahasa harus makin maju:
•Penguasaan pengetahuan perlu kreatifitas.
•Belajar bahasa memecahkan masalah.
3)Konstruktifisme
Membangun bahasa, misalnya pertama-tama tahu satu kata, dua kata dan sebagainnya. Belajar bahasa merupakan:
•Belajar kreatif
•Belajar bahasa menyusun pengalaman.

Pendekatan Pembelajaran Bahasa:
a)Pendekatan Whole Language
Ciri dari pendekatan Whole Language adalah sebagai berikut:
Utuh dan terpadu (simak,wicara, baca dan tulis)
Berdasarkan teks artinya belajar bahasa berdasarkan sebuah wacana.
Belajar sesungguhnya yakni benar-benar belajar bahasa sebagai alat komunikasi.
b) Pendekatan Komunikatif, contohnya berbicara melalui telepon, wawancara dsb.
Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang bertujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran. Pendekatan komunikatif juga merupakan pendekatan yang mengembangkan prosedur pembelajaran 4 keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis). Pendekatan Komunikatif mempunyai cirri sebagai berikut:
Komunkatif (berinteraksi)
Fungsional (bermakna)
c)Pendekatan Inquiry
Merupakan pndekatan dimana anak mencari dan menemukan sesuatu untuk memperoleh bahasa dengan cara:
Belajar dengan mencari dan menemukan
Menantang untuk berinteraksi
Membangun kepercayaan diri
Bekerja sama
d)Pendekatan Konstruktifisme
Belajar aktif
Menghubungkan pengalaman dengan pengetahuan
Membentuk atau menyusun
Terus-menerus
e)Pendekatan Keterampilan Proses
Merupakan pendekatan dimana pengolahan KBM yang berfokus pada perlibatan secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar. Pendekatan keterampilan proses berorientasi terhadap hasil dan proses belajar. Keterampilan proses mengembangkan mengamati, menghitung, mengukur, mengklasifikasi, menemukan hubungan, membuat prediksi, melaksanakan penelitian, mengumpulkan dan menganalisis data serta mengkomunikasikan hasil.
f)Pendekatan Tematis Integratif
Adalah pendekatan pembelajaran bahasa yang berdasarkan tema dan dilaksanakan secara terpadu untuk memperoleh kemampuan berbahasa.

II.Aspek-aspek pembelajaran Bahasa Indonesia di SD
1.Aspek mendengarkan (menyimak)
2.Aspek berbicara
3.Aspek membaca
4.Aspek menulis
Ke empat aspek pembelajaran Bahasa Indonesia mengarah kepada siswa memiliki kemampuan berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan.

1.Kemampuan menyimak
A.Pengertian Menyimak
Untuk dapat mendefinisikan “keterampilan menyimak”, ada dua pertanyaan yang mendasar yang harus dijawab, yaitu (1) Komponen apa sajakah yang terdapat dalam keterampilan menyimak? (2) Apa yang harus dilakukan oleh seorang penyimak? Berkaitan dengan pertanyaan pertama, ada sejumlah komponen yang terlibat dalam keterampilan menyimak, antara lain:
•pembedaan bunyi-bunyi bahasa
•pengenalan kata-kata (kosakata)
•pengidentifikasian kelompok-kelompok kata yang gramatikal
•pengidentifikasian satuan-satuan pragmatis - ekspresi dan seperangkat ujaran yang berfungsi sebagai satu kesatuan untuk menciptakan makna
•penghubungan antara penanda linguistik dan paralinguistik (intonasi dan tekanan) dan antara penanda linguistik dan nonlinguistik (gerakan tubuh dalam situasi tertentu) untuk membangun makna
•penggunaan latar belakang pengetahuan (apa yang telah diketahui tentang isi atau bahan simakan) dan konteks (apa yang telah diujarkan) untuk memprediksi makna
•pengingatan kata-kata atau ide-ide yang penting (Rost, 1990: 6).
Keberhasilan menyimak sangat bergantung pada kemampuan mengintegrasikan komponen-komponen di atas. Oleh karena itu, keterampilan menyimak dapat diartikan sebagai koordinasi komponen-komponen keterampilan, baik keterampilan mempersepsi, menganalisis, maupun menyintesis.
KETERAMPILAN MENYIMAK
Aksi terpenting untuk kesuksesan menyimak adalah proses pembuatan keputusan. Penyimak harus membuat beberapa keputusan, seperti:
•Jenis situasi menyimak apa saja yang dimunculkan?
•Rencana apa yang disusun untuk menyimak?
•Kata-kata dan satuan-satuan makna apa saja yang penting untuk disimak?
•Apakah pesan yang disampaikan masuk akal?
Jika merujuk pada pertanyaan-pertanyaan di atas, menyimak diartikan sebagai proses berpikir - berpikir tentang makna.

Menyimak adalah proses mendengarkan yang direncanakan secara sungguh-sungguh sampai memahami.
Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya. Menyimak melibatkan pendengaran, penglihatan, penghayatan, ingatan, pengertian.
B.Aspek-aspek menyimak
1.Adanya aktivitas mendengarkan
2.Adanya konsentrasi
3.Menggunakan pikiran yang kritis
4.Adanya pemahaman
5.Dalam situasi yang sama
6.Intelegensi atau kemampuan
Salah satu tujuan menyimak adalah seperti pembagian berikut, yakni menyimak untuk tujuan :
1. Mendapatkan fakta
2. Menganalisis fakta
3. Mngevaluasi fakta
4. Mendapatkan inspirasi
5. Menghibur diri
6. Meningkatkan kemampuan berbicara
Tujuh titik pandang yang digunakan sebagai dasar pengklasifikasian menyimak. Ketujuh titik pandang tersebut adalah:
1.Sumber suara
Jenis menyimak:
a.Intra personal listening
b.Inter personal listening
2.Taraf aktivitas penyimak
Jenis menyimak:
a.Menyimak tanpa mereaksi
b.Menyimak terputus-putus
c.Menyimak pasif
d.Menyimak dangkal
e.Menyimak untuk membandingkan
f.Menyimak organisasi materi
g.Menyimak kritis
h.Menyimak kreatif & apresiatif
3.Taraf hasil simakan
Jenis menyimak:
a.Menyimak marjinal
b.Menyimak apresiatif
c.Menyimak atentif
d.Menyimak analisis
4.Keterlibatan penyimak dan kemampuan khusus
Jenis menyimak:
a.Menyimak intensif
b.Menyimak ekstensif
5.Cara penyimakan bahan simakan
Jenis menyimak:
a.Menyimak sederhana
b.Menyimak deskriminatif
c.Menyimak santai
d.Menyimak informative
e.Menyimak literature
f.Menyimak kritis
6.Tujuan menyimak
Jenis menyimak:
a.Menyimak untuk belajar
b.Menyimak untuk menghibur
c.Menyimak untuk menilai
d.Menyimak apresiatif
e.Menyimak untuk mengkomunikasikan ide dan perasaan
f.Menyimak diskriminatif
g.Menyimak pemecahan masalah
7.Tujuan spesifik
Pemainan Bahasa Indonesia

Pemainan Bahasa Indonesia

Permainan Tata Suku Kata

1. Tujuan
• Merangsang kepekaan grafofenemik
• Merangsang minat baca
• Merangsang kepekaan struktur

2. Catatan
• Permainan ini menarik, karena anak mungkin saja membuat kata-kata yang lucu dan membuat mereka tertawa.

3. Alat dan Bahan
• Suku kata terbuka ukuran 6 x 8 cm
• Kertas gambar masing-masing bertulis ba-ca-da-la-ma seperti contoh
ba ca da la ma

• lem
4. Cara Bermain
• Bagi anak menjadi 5 kelompok. Berikan masing-masing 5 lembar kertas gambar bertulis suku kata ba-ca-da-la-ma.
• Pancing anak untuk mengisi suku kedua pada gambar hingga membentuk kata. “Ba… apa anak-anak?” Tampung jawaban anak, seperti “baru”, “baju”, bata”, “bali, “bara”.
• Persilahkan anak-anak bekerja sama menempelkan suku kata yang dimaksud.
• Perhatikan hasil kerja kelompok yang di depan. Baca bersama-sama. Biarkan anak-anak tertawa jika kata yang dibentuk tidak bermakna, seperti “bamo” atau bazi”. Apresiasi hasil kerja anak dengan mencari kata yang mendekati, seperti “bemo” dan “bayi”.
• Teruskan permainan hingga semua kelompok selesai menempel 5 suku kata kedua.

5. Tindak Lanjut
• Atur tiap kelompok hingga setiap kelompok terdapat anak yang mulai dapat membaca. Proses pembelajaran horizontal akan mendorong anak-anak lain untuk senang membaca.
• Apabila anak-anak dapat melakukan permainan dengan baik, balik permainan dengan mengosongkan suku kata pertama.


1.Tujuan
•Merangsang kepekaan grafofenemik
•Merangsang minat baca
•Merangsang kepekaan struktur

2.Catatan
•Permainan ini menarik, karena anak mungkin saja membuat kata-kata yang lucu dan membuat mereka tertawa.

3.Alat dan Bahan
•Suku kata terbuka ukuran 6 x 8 cm
•Kertas gambar masing-masing bertulis ba-ca-da-la-ma seperti contoh
ba ca da la ma

•lem
4.Cara Bermain
•Bagi anak menjadi 5 kelompok. Berikan masing-masing 5 lembar kertas gambar bertulis suku kata ba-ca-da-la-ma.
•Pancing anak untuk mengisi suku kedua pada gambar hingga membentuk kata. “Ba… apa anak-anak?” Tampung jawaban anak, seperti “baru”, “baju”, bata”, “bali, “bara”.
•Persilahkan anak-anak bekerja sama menempelkan suku kata yang dimaksud.
•Perhatikan hasil kerja kelompok yang di depan. Baca bersama-sama. Biarkan anak-anak tertawa jika kata yang dibentuk tidak bermakna, seperti “bamo” atau bazi”. Apresiasi hasil kerja anak dengan mencari kata yang mendekati, seperti “bemo” dan “bayi”.
•Teruskan permainan hingga semua kelompok selesai menempel 5 suku kata kedua.

5.Tindak Lanjut
•Atur tiap kelompok hingga setiap kelompok terdapat anak yang mulai dapat membaca. Proses pembelajaran horizontal akan mendorong anak-anak lain untuk senang membaca.
•Apabila anak-anak dapat melakukan permainan dengan baik, balik permainan dengan mengosongkan suku kata pertama.
Kajian Kurikulum Kelas 2 SD

Kajian Kurikulum Kelas 2 SD

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
BAHASA INDONESIA KELAS II SEMESTER 1 DAN 2

A.Latar Belakang

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginative yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.
Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan :
1.Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri.
2.Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar.
3.Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahaan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya.
4.Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaaan dan kesastraan di sekolah.
5.Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia.
6.Daerah dapat menentukan bahan dan suber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.
B.TUJUAN
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut .
1.Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis.
2.Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara.
3.Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
4.Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan social
5.Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperluas budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
6.Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

C. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan barbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1.Mendengarkan
2.Berbicara
3.Membaca
4.Menulis
Pada akhir pendidikan di SD/MI, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya Sembilan buku sastra dan nonsastra.

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
BAHASA INDONESIA KELAS II SEMESTER 1 DAN 2


A.KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA KELAS II SEMESTER I
1.Mendengarkan
a.Standar Kompetensi
-Memahami teks pendek dan puisi anak yang dilisankan.
b.Kompetensi Dasar
-Menyebutkan kembali dengan kata-kata atau kalimat sendiri isi teks pendek.
-Mendeskripsikan isi puisi
c.Materi
-Teks cerita
d.Hasil Kajian
-Mendengarkan teks cerita yang dibacakan guru
-Mengidentifikasi pernyataan benar atau salah berdasarkan isi teks yang didengar
-Menjawab pertanyaan
-Menyebutkan kembali isi teks dengan kata-kata atau kalimat sendiri

2.Berbicara
a.Standar Kompetensi
-Mengungkapkan pikiran, perasaan dan pengalaman secara lisan melalui kegiatan bertanya, bercerita, dan deklamasi.
b.Kompetensi Dasar
-Bertanya kepada orang lain dengan mengggunakan pilihan kata yang tepat dan santun berbahasa.
-Menceritakan kegiatan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain.
-Mendeklamasikan puisi dengan ekspresi yang tepat.
c.Materi
-Kata tanya
d.Hasil Kajian
-Memperagakan percakapan
-Menggunakan kata tanya dalam kalimat
-Menggunakan kata tanya dalam percakapan
3.Membaca
a.Standar Kompetensi
-Memahami teks pendek dengan membaca lancar dan membaca puisi anak
b.Kompetensi Anak
-Menyimpulkan isi teks pendek ( 10-15 kalimat ) yang dibaca dengan membaca lancar.
-Menjelaskan isi puisi anak yang dibaca.
c.Materi
-Puisi anak
d.Hasil Kajian
-Membacakan puisi anak
-Menjawab pertanyaan sesuai dengan isi puisi
-Menjelaskan kembali puisi anak dengan kata-kata atau kalimat sendiri
-Menyimpulkan isi puisi yang dibaca
4.Menulis
a.Standar Kompetensi
-Menulis permulaan melalui kegiatan melengkapi cerita dan dikte.
b.Kompetensi Dasar
-Melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat.
-Menulis kalimat sederhana yang didiktekan guru dengan menggunakan huruf tegak bersambung dan memperhatikan penggunaan huruf capital dan tanda titik.
c.Materi
-Cerita rumpang
d.Hasil Kajian
-Mengenal huruf capital
-Menyalin kalimat dengan huruf capital yang benar
-Melengkapi kalimat dengan kata yang tepat
-Melengkapi cerita rumpang sesuai dengan keadaan diri sendiri
B.KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA KELAS II SEMESTER II
1.Mendengarkan
a.Standar Kompetensi
-Memahami pesan pendek dan dongeng yang dilisankan.
b. Kompetensi Dasar
-Menyampaikan pesan pendek yang didengarnya kepada orang lain
-Menceritakan kembali isi dongeng yang didengarnya.
2.Berbicara
a.Standar Kompetensi
-Mengungkapkan secara lisan beberapa informasi dengan mendeskripsikan benda dan bercerita.
b. Kompetensi Dasar
-Mendeskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar sesuai cirri-cirinya dengan menggunakn kalimat yang mudah dipahami orang lain.
-Menceritakan kembali cerita anak yang didengarkan dengan menggunakan kata-kata sendiri.
3.Membaca
a.Standar Kompetensi
-Memahami ragam wacana tulis dengan membaca nyaring dan membaca dalam hati
b.Kompetensi Dasar
-Membaca nyaring teks ( 15-20 ) dengan memperhatikan lafal dan intonasi yang tepat.
-Menyebutkan isi teks agak panjang ( 20-25 kalimat ) yang dibaca dalam hati.
4.Menulis
a.Standar Kompetensi
-Menuli permulaan dengan mendeskripsikan benda di sekitar dan menyalin puisi anak.
b.Kompetensi Dasar
-Mendeskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar secara sederhana dengan bahasa tulis.
-Menyalin puisi anak dengan huruf tegak bersambung yang rapi.

C.HASIL KAJIAN DAN KOMENTAR
1.Hasil Kajian
Keterampilan berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II meliputi semua aspek keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.
a.Mendengarkan
-Mendengarkan teks cerita yang dibacakan guru
-Mengidentifikasi pernyataan benar atau salah berdasarkan isi teks yang didengar
-Menjawab pertanyaan
-Menyebutkan kembali isi teks dengan kata-kata atau kalimat sendiri
b.Berbicara
-Memperagakan percakapan
-Menggunakan kata tanya dalam kalimat
-Menggunakan kata tanya dalam percakapan
c.Membaca
-Membacakan puisi anak
-Menjawab pertanyaan sesuai dengan isi puisi
-Menjelaskan kembali puisi anak dengan kata-kata atau kalimat sendiri
-Menyimpulkan isi puisi yang dibaca
d.Menulis
-Mengenal huruf capital
-Menyalin kalimat dengan huruf capital yang benar
-Melengkapi kalimat dengan kata yang tepat
-Melengkapi cerita rumpang sesuai dengan keadaan diri sendiri

D.KESIMPULAN
Materi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II sudah meliputi keempat aspek keterampilan berbahasa baik yang bersifat produktif (berbicara, menulis) maupun yang bersifat reseptif (mendengarkan, membaca). Berdasarkan Kurikulum 2006 (KTSP) siswa kelas II dituntut untuk mampu menguasai keempat aspek keterampilan berbahasa melalui materi Pembelajaran Bahasa Indonesia.
Materi-materi tersebut dapat dikembangkan oleh guru atau pihak sekolah, karena pada Kurikulum 2006 (KTSP) pengembangan materi, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian sepenuhnya diserahkan kepada guru atau pihak sekolah disesuaikan dengan kebutuhan. Dan KTSP sendiri mengenal diversifikasi kurikulum artinya kurikulum bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi kepada kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat lingkungan sekolah.
Dalam pembelajaran tematik di kelas II khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia masih terdapat banyak kesulitan diantaranya:
a. Siswa masih sulit menceritakan sebuah cerita dengan kata-kata atau kalimat sendiri.
b. Siswa belum mampu menggunakan pilihan kata yang tepat dan santun dalam berkomunikasi lisan.
c. Siswa belum mampu menjawab pertanyaan sesuai dengan isi bacaan


DAFTAR PUSTAKA

1. KTSP 2006
2. Tim Wahana Kreativitas. Pedoman Guru Pembelajaran Tematik. Benua Intan Berlian.
3. Tim Bina Karya Guru. Bina Bahasa Indonesia. Erlangga
Jenis Makna

Jenis Makna

Kita ketahui bahwa sebuah kata mempunyai makna kognitif (denotative, deskriptif), makna konotatif dan emotif.
Berikut ini akan dibahas mengenai jenis-jenis makna berdasarkan berbagai sumber yang telah dikemukakan oleh para ahli bahasa.
1.Makna Sempit
Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran.
Kridalaksana (1993), memberikan penjelasan bahwa makna sempit (specialized meaning, narrowed meaning) adalah makna ujaran yang lebih sempit daripada makna pusatnya; misalnya makna kepala dalam kepala batu.

2.Makna Luas
Makna luas (widened meaning atau extended meaning) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas daripada yang diperkirakan (Djajasudarma, 1993)
Kata-kata yang berkonsep memiliki makna luas dapat muncul dari makna yang sempit, seperti pada contoh bahasa Indonesia berikut.
Pakaian dalam dengan pakaian
Kursi roda dengan kursi
Menghidangkan dengan menyiapkan
Memberi dengan menyumbang

3.Makna Kognitif
Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukan adanya hubungan konsep dengan dunia kenyataan.

4.Makna Konotatif dan Emotif
Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkanpada makna denotative yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok yang menggunakan kata tersebut.
Makna emotif (bahasa Inggris emotive meaning) adalah makna yang melibatkan perasaan (pembicara dan pendengar; penulis dan pembaca) kea rah yang positif.
Makna emotif di dalam bahasa Indonesia cenderung berbeda dengan makna konotatif; makna emotif cenderung mengacu kepada hal-hal (makna) yang negatif.

5.Makna Referensial
Sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referentnya, atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, dan gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya, kata-kata seperti dan, atau, dan karena adalah termasuk kata-kata yang tidak bermakna referensial, karena kata-kata itu tidak mempunyai referent.

6.Makna Kontruksi
Makna kontruksi adalah makna yang terdapat di dalam kontuksi. Misalnya, makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia.
Contoh-contoh yang diberikan Djajasudarma (1993) mengenai makna kontruksi ini antara lain :
•Itu buku saya
•Saya baca buku saya
•Perempuan itu ibu saya
7.Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Makna leksikal adalah makna yang yang dimiliki atau ada pada leksem atau kata meski tanpa konteks apapun. Lain dari makna leksikal, makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, redupilikasi, komposisi, dan kalimatisasi.

8.Makna Odesional
Makna idesional adalah makna yang muncul sebagai akibat dari penggunaan kata yang berkonsep atau ide yang terkandung di dalam satuan kata-kata, baik bentuk dasar maupun turunan.
9.Makna Proposisi
Makna proposisi adalah makna yang muncul apabila kita membatasi pengertian tentang sesuatu. Kata-kata dengan makna proposisi dapat kita lihat di bidang matematika, atau di bidang eksaktra.
Makna proposisi dapat diterapkan ke dalam sesuatu yang pasti, tidak mungkin dapat diubah lagi, misalnya, di dalam bahasa kita kenal proposisi:
a.satu tahun sama dengan dua belas bulan.
b.Makhluk hidup akan mati. Dan sebagainya.

10.Makna Pusat
Makna pusat adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi ujaran. Sebagai contoh dapat kita lihat dalam ekspresi berikut.
a.meja itu bundar.
b.Ali seorang laki-laki. Dan sebagainya.

11.Makna Piktorial
Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca.

12.Makna Idiomatik
Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Misalnya, secara gramatikal bentuk menjual rumah bermakna ‘yang menjual rumah menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya’; tetapi dalam bahasa Indonesia bentuk menjual gigi, tidak bermakna seperti menjual rumah, melainkan ‘tertawa dengan keras’. Jadi, makna seperti yang dimiliki dalam bentuk menjual gigi, yang disebut makna idiomatik.
Semantik

Semantik

Semantik adalah cabang linguistik yang meneliti arti atau makna.
A.Unsur Semantik
1.Tanda dan Lambang (simbol)
Tanda dan lambang (simbol) merupakan dua unsur yang terdapat dalam bahasa. Tanda dan lambang (simbol) dikembangkan menjadi sebuah teori yang dinamakan semiotik. Semiotik mempunyai tiga aspek yang saling berkaitan dengan ilmu bahasa, yaitu aspek sintaksis, aspek semantik, dan aspek pragmatik.
Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain, yang dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan lain-lain.
Menurut Peirce ada tiga faktor yang menentukan sebuah tanda, yaitu tanda itu sendiri, hal yang ditandai, dan sebuah tanda baru yang terjadi dalam batin si penerima (Luxemburg dkk, 1989).

Tanda dapat digolongkan berdasarkan penyebab timbulnya, seperti yang diungkapkan Djajasudarma (1993) sebagai berikut :
1)Tanda yang ditimbulkan oleh alam, diketahui manusia karena pengalaman.
2)Tanda yang ditimbulkan oleh binatang, diketahui oleh manusia dari suara binatang tersebut.
3)Tanda yang ditimbulkan oleh manusia.
a.Tanda yang dihasilkan anggota badan.
b.Tanda yang dihasilkan melalui bunyi.

2.Makna Leksikal dan Hubungan Referensial
Makna leksikal merupakan unsur tertentu yang melibatkan hubungan antara makna kata-kata yang siap dianalisis.
Hubungan referensial adalah hubungan yang terdapat antara sebuah kata dan dunia luar bahasa yang diacu oleh pembicaraan.
Hubungan antara kata (lambang), makna (konsep atau reference) dan sesuatu yang diacu atau referen adalah hubungan tidak langsung.

3.Penamaan
Nama merupakan kata-kata yang menjadi label setiap makhluk, benda, aktivitas, dan peristiwa di dunia.
Penamaan suatu benda di tiap daerah atau lingkungan kebudayaan tertentu tidak semuanya sama, misalnya:
Padi bahasa Indonesia
Pare bahasa Sunda
Pale bahasa Gorontalo
RELASI MAKNA

RELASI MAKNA

1.Sinonimi
Istilah sinonim berasal dari kata Yunani Kuno, onoma berarti ‘nama’ dan syn berarti ‘dengan’, jadi secara istilah sinonim berarti ‘nama lain (dengan) untuk benda yang sama.
Sinonim adalah persamaan arti atau makna, atau dua kata atau lebih yang memiliki makna sama. Menurut Soedjito (1989), sinonim ialah dua kata atau lebih yang maknanya (1) sama atau (2) hampir sama atau mirip. Misalnya dua kata atau lebih yang maknanya sama, yaitu : aku – saya, sudah – telah, dapat – bias, dan sebagainya.

2.Antonimi
Istilah antonim berasal dari kata Yunani Kuno, asal kata onoma yang berarti ‘nama’ dan anti yang berarti ‘melawan’. Dalam bahasa Inggris yaitu antonymy. Secara harfiah antonim adalah dua kata atau lebih yang mempunyai makna berlawanan.
Antonimi adalah oposisi makna dalam pasangan leksikal yang dapat dijenjangkan. Sebagai contoh pasangan antonim yaitu : mudah – sukar, tinggi – rendah, dan sebagainya.
Dilihat dari hubungannya, antonym dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut : pertama, antonim yang bersifat mutlak, misalnya hidup dan mati. Kedua, antonim yang bersifat relative atau bergradasi, misalnya besar dan kecil. Ketiga, antonim yang bersifat relasional, misalnya membeli dan menjual. Keempat, antonim yang bersifat hierarkial, misalnya tamtama dan bintara.

3.Polisemi
Polisemi adalah satu kata yang mempunyai beberapa makna, dengan kata lain polisemi ialah sebuah kata atau satuan ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu. Misalnya kata kepala, yang berarti ‘bagian tubuh’, ‘ketua atau pimpinan’, ‘sesuatu yang berada di sebelah atas’, ‘sesuatu yang berbentuk bulat’, ‘dan sesuatu atau bagian yang sangat penting’.

4.Homonimi
Homonim adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya kebetulan sama, tetapi maknanya. Misalnya, kata pacar, yang berarti ‘inai’ dan yang berarti ‘kekasih’.

5.Hiponimi
Istilah hiponomi berasal dari kata Yunani Kuno, asal kata onoma berarti ‘nama’ dan hypo berarti ‘di bawah’. Secara istilah hiponim adalah nama di bawah nama lain.
Pengertian Sastra

Pengertian Sastra

sastra adalah perwujudan pikiran dalam bentuk tulisan. Tulisan adalah media pemikiran yang tercurah melalui bahasa, bahasa yang bisa direpresentasikan dalam bentuk tulisan, media lain bisa saja berbentuk gambar, melody musik, lukisan ataupun karya lingkungan binaan (arsitektur).
Dr. Abdullah Dahana Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia berkesimpulan bahwa istilah Sastra telah mengalami penyempitan arti, “Kebanyakan kaum awam menganggap sastra hanyalah ilmu yang mengurusi kesusastraan saja. Padahal arti sastra sesungguhnya itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan secara luas. Itulah salah satu penyebab Fakultas Sastra berganti baju menjadi Fakultas Ilmu Budaya.”
Menurut KBBI arti sastra adalah:
(1) bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari);
(2) karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.
Sebelum membahas lebih jauh mengenai nilai seni dalam sastra sebaiknya pahami dulu pegertian sastra itu sendiri dan hubungannya dengan seni. Sastra (dalam bahasa Inggris: literature), menurut Oxford English Dictionary, berasal dari kata “littera” yang artinya tulisan yang bersifat pribadi. Istilah ini secara umum bermaksud mengidentifikasi makna yang terkandung dalam sebuah teks (tulisan) termasuk prosa, fiksi, drama dan puisi. Sebelumya telah dikenal semacam sastra lisan, seperti epic, legenda, mitos, balada (bentuk lain puisi lisan) dan cerita rakyat (folktale).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa sastra berarti: (1) bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari); (2) karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.
 Menurut Wellek dan Austin Warren:
1) Sebuah ciptaan, kreasi, bukan Cuma imitasi
2) Luapan emosi yang spontan
3) Bersifat otonom
4) Otonomi sastra bersifat koheren (selaras bentuk dan isi)
5) Menghadirkan sintesa antara hal-hal yang saling bertentangan
6) Mengungkapkan sesuatu yang tidak terungkapkan dengan bahasa sehari-hari.

Pengertian sastra secara umum yaitu Hasil cipta manusia berupa tulisan maupun lisan, bersifat imajinatif, disampaikan secara khas, mengandung pesan yang bersifat relatif.
Pengertian sastra jawa adalah :
 Sastra: alat untuk mengajar
 Jadi, sastra adalah segala sesuatu yang berfungsi untuk mengajar.
 Ilmu pengetahuan, ilmu alam, hukum, undang-undang, ilmu bahasa, karangan, naskah/ manuskrip dalam filologi.
Objek sastra
 Bahasa lisan maupun tertulis, baik tersurat maupun tersirat, dengan aneka gaya penyampaiannya.
Analisis Kurikulum 2006

Analisis Kurikulum 2006

LAPORAN HASIL ANALISIS
KURIKULUM 2006 (KTSP)
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS VI

A. Rasionalisasi Kurikulum 2006 (KTSP)
Kurikulum 2006 (KTSP) merupakan kurikulum hasil penyempurnaan dari kurikulum 2004 (KBK). Jadi secara substansial Kurikulum 2006 sama dengan Kurikulum 2004 baik dalam isi, target maupun materi. Perbedaannya terletak pada pengembangan materi, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian yang sepenuhnya diserahkan kepada guru atau pihak sekolah disesuaikan dengan kebutuhan.
Tujuan diterbitkannya Kurikulum 2006 (KTSP) adalah untuk meningkatkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi untuk membangun dirinya, bangsanya, negaranya, agamanya serta sanggup menghadapi era globalisasi.
Prinsip pengembangan Kurikulum 2006 (KTSP)
• Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungan;
• Beragam dan terpadu;
• Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni;
• Relevan dengan kebutuhan kehidupan;
• Belajar sepanjang hayat;
• Keseimbangan antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

B. Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan Kurikulum 2006 (KTSP)
1. Semester 1
Mendengarkan
Standar Kompetensi
Memahami teks dan cerita anak yang dibacakan.

Kompetensi Dasar
 Menulis hal-hal penting/pokok dari suatu teks yang dibacakan.
 Mengidentifikasi tokoh, watak, watak, latar, tema atau amanat dari cerita anak yang dibacakan.
Berbicara
Standar Kompetensi
Memberikan informasi dan tanggapan secara lisan.
Kompetensi Dasar
 Menyampaikan pesan/informasi yang diperoleh dari berbagai media dengan bahasa yang runtut, baik dan benar.
 Menanggapi (mengkritik/memuji) sesuatu hal disertai alasan dengan menggunakan bahasa yang santun.
Membaca
Standar kompetensi
Memahami teks dengan membaca intensif dan membaca sekilas.
Kompetensi Dasar
 Mendeskripsikan isi dan teknik penyajian suatu suatu laporan hasil pengamatan/kunjungan.
 Menanggapi informasi dari kolom/rubric khusus (majalah anak, Koran dll.)
Menulis
Standar Kompetensi
Mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi secara tertulis dalam bentuk formulir, ringkasan, dialog dan parafrase.
Kompetensi Dasar
 Mengisi formulir (pendaftaran, kartu anggota, wesel pos, daftar riwayat hidup, dll.) dengan benar.
 Membuat ringkasan dari teks yang dibaca atau yang didengar.
 Menyusun percakapan tentang berbagai topik dengan memperhatikan penggunaan ejaan.
 Mengubah puisi ke dalam bentuk prosa dengan tetap memperhatikan makna puisi.
2. Semester 2
Mendengarkan
Standar Kompetensi
Memahami wacana lisan tentang berita dan drama pendek.
Kompetensi Dasar
 Menyimpulkan isi berita yang didengar dari televisi atau radio.
 Menceritakan isi drama pendek yang disampaikan secara lisan.
Berbicara
Standar Kompetensi
Mengungkapkan pikiran, perkataan, dan informasi dengan berpidato, melaporkan isi buku dan baca puisi.
Kompetensi Dasar
 Berpidato atau presentasi untuk berbagai keperluan (acara perpisahan, perayaan ulang tahun, dll.) dengan lafal, intonasi, dan sikap yang tepat.
 Melaporkan isi buku yang dibaca (judul, pengarang, jumlah halaman dan isi) dengan kalimat yang runtut.
 Membacakan puisi karya sendiri dengan ekspresi yang tepat.
Membaca
Standar kompetensi
Memahami teks dengan membaca intensif dan membaca teks drama.
Kompetensi Dasar
 Menemukan makna tersirat suatu teks melalui membaca intensif.
 Mengidentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, jalan cerita, dan amanat) dari teks drama anak.
Menulis
Standar Kompetensi
Mengungkapkan pikiran dan informasi secara tertulis dalam bentuk naskah pidato dan surat resmi.
Kompetensi Dasar
 Menyusun naskah pidato/sambutan (perpisahan, ulang tahun, perayaan sekolah, dll.) dengan bahasa yang baik dan benar, serta memperhatikan penggunaan ejaan.
 Menulis surat resmi dengan memperhatikan pilihan kata sesuai dengan orang yang dituju.

C. Analisis dan Komentar
1. Analisis
Keterampilan berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VI meliputi semua aspek keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.
a. Mendengarkan
Dalam satu tahun (2 semester), siswa kelas VI dituntut agar memiliki keterampilan berbahasa dalam aspek mendengarkan melalui wacana baik teks, cerita anak, berita, maupun drama pendek.
Wacana tersebut ditransfer pada anak melalui bahasa lisan karena sesuai dengan aspek yang ingin dilatihkan. Adapun medianya dapat melalui media elektronik maupun secara lisan langsung.
b. Berbicara
Melatih kecakapan berbicara pada anak kelas VI dilakukan melalui kegiatan menyampaikan pesan secara lisan sesuai dangan materi. Kegiatan menyampaikan pesan tersebut haruslah sesuai dengan lafal, intonasi dan konteks yang tepat.
c. Membaca
Keterampilan membaca yang dilatihkan atau diajarkan pada siswa kelas VI dilakukan melalui kegiatan membaca teks drama, membaca intensif, dan membaca sekilas.
d. Menulis
Selain mendengarkan, berbicara dan membaca, siswa kelas VI juga dituntut untuk mampu menguasai keterampilan menulis sebagai aspek dalam keterampilan berbahasa.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui pengungkapan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk formulir, ringkasan, dialog, dan paraphrase maupun dalam bentuk naskah pidato dan surat resmi.
2. Komentar
Materi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II sudah meliputi keempat aspek keterampilan berbahasa baik yang bersifat produktif (berbicara, menulis) maupun yang bersifat reseptif (mendengarkan, membaca). Berdasarkan Kurikulum 2006 (KTSP) siswa kelas II dituntut untuk mampu menguasai keempat aspek keterampilan berbahasa melalui materi Pembelajaran Bahasa Indonesia.
Materi-materi tersebut dapat dikembangkan oleh guru atau pihak sekolah, karena pada Kurikulum 2006 (KTSP) pengembangan materi, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian sepenuhnya diserahkan kepada guru atau pihak sekolah disesuaikan dengan kebutuhan. Dan KTSP sendiri mengenal diversifikasi kurikulum artinya kurikulum bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi kepada kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat lingkungan sekolah.
Dalam pembelajaran tematik di kelas II khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia masih terdapat banyak kesulitan diantaranya:
a. Siswa masih sulit menceritakan sebuah cerita dengan kata-kata atau kalimat sendiri.
b. Siswa belum mampu menggunakan pilihan kata yang tepat dan santun dalam berkomunikasi lisan.
c. Siswa belum mampu menjawab pertanyaan sesuai dengan isi bacaan.
Analisis Kurikulum 2006

Analisis Kurikulum 2006

LAPORAN HASIL ANALISIS
KURIKULUM 2006 (KTSP)
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS VI

A. Rasionalisasi Kurikulum 2006 (KTSP)
Kurikulum 2006 (KTSP) merupakan kurikulum hasil penyempurnaan dari kurikulum 2004 (KBK). Jadi secara substansial Kurikulum 2006 sama dengan Kurikulum 2004 baik dalam isi, target maupun materi. Perbedaannya terletak pada pengembangan materi, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian yang sepenuhnya diserahkan kepada guru atau pihak sekolah disesuaikan dengan kebutuhan.
Tujuan diterbitkannya Kurikulum 2006 (KTSP) adalah untuk meningkatkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi untuk membangun dirinya, bangsanya, negaranya, agamanya serta sanggup menghadapi era globalisasi.
Prinsip pengembangan Kurikulum 2006 (KTSP)
• Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungan;
• Beragam dan terpadu;
• Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni;
• Relevan dengan kebutuhan kehidupan;
• Belajar sepanjang hayat;
• Keseimbangan antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

B. Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan Kurikulum 2006 (KTSP)
1. Semester 1
Mendengarkan
Standar Kompetensi
Memahami teks dan cerita anak yang dibacakan.

Kompetensi Dasar
 Menulis hal-hal penting/pokok dari suatu teks yang dibacakan.
 Mengidentifikasi tokoh, watak, watak, latar, tema atau amanat dari cerita anak yang dibacakan.
Berbicara
Standar Kompetensi
Memberikan informasi dan tanggapan secara lisan.
Kompetensi Dasar
 Menyampaikan pesan/informasi yang diperoleh dari berbagai media dengan bahasa yang runtut, baik dan benar.
 Menanggapi (mengkritik/memuji) sesuatu hal disertai alasan dengan menggunakan bahasa yang santun.
Membaca
Standar kompetensi
Memahami teks dengan membaca intensif dan membaca sekilas.
Kompetensi Dasar
 Mendeskripsikan isi dan teknik penyajian suatu suatu laporan hasil pengamatan/kunjungan.
 Menanggapi informasi dari kolom/rubric khusus (majalah anak, Koran dll.)
Menulis
Standar Kompetensi
Mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi secara tertulis dalam bentuk formulir, ringkasan, dialog dan parafrase.
Kompetensi Dasar
 Mengisi formulir (pendaftaran, kartu anggota, wesel pos, daftar riwayat hidup, dll.) dengan benar.
 Membuat ringkasan dari teks yang dibaca atau yang didengar.
 Menyusun percakapan tentang berbagai topik dengan memperhatikan penggunaan ejaan.
 Mengubah puisi ke dalam bentuk prosa dengan tetap memperhatikan makna puisi.
2. Semester 2
Mendengarkan
Standar Kompetensi
Memahami wacana lisan tentang berita dan drama pendek.
Kompetensi Dasar
 Menyimpulkan isi berita yang didengar dari televisi atau radio.
 Menceritakan isi drama pendek yang disampaikan secara lisan.
Berbicara
Standar Kompetensi
Mengungkapkan pikiran, perkataan, dan informasi dengan berpidato, melaporkan isi buku dan baca puisi.
Kompetensi Dasar
 Berpidato atau presentasi untuk berbagai keperluan (acara perpisahan, perayaan ulang tahun, dll.) dengan lafal, intonasi, dan sikap yang tepat.
 Melaporkan isi buku yang dibaca (judul, pengarang, jumlah halaman dan isi) dengan kalimat yang runtut.
 Membacakan puisi karya sendiri dengan ekspresi yang tepat.
Membaca
Standar kompetensi
Memahami teks dengan membaca intensif dan membaca teks drama.
Kompetensi Dasar
 Menemukan makna tersirat suatu teks melalui membaca intensif.
 Mengidentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, jalan cerita, dan amanat) dari teks drama anak.
Menulis
Standar Kompetensi
Mengungkapkan pikiran dan informasi secara tertulis dalam bentuk naskah pidato dan surat resmi.
Kompetensi Dasar
 Menyusun naskah pidato/sambutan (perpisahan, ulang tahun, perayaan sekolah, dll.) dengan bahasa yang baik dan benar, serta memperhatikan penggunaan ejaan.
 Menulis surat resmi dengan memperhatikan pilihan kata sesuai dengan orang yang dituju.

C. Analisis dan Komentar
1. Analisis
Keterampilan berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas VI meliputi semua aspek keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.
a. Mendengarkan
Dalam satu tahun (2 semester), siswa kelas VI dituntut agar memiliki keterampilan berbahasa dalam aspek mendengarkan melalui wacana baik teks, cerita anak, berita, maupun drama pendek.
Wacana tersebut ditransfer pada anak melalui bahasa lisan karena sesuai dengan aspek yang ingin dilatihkan. Adapun medianya dapat melalui media elektronik maupun secara lisan langsung.
b. Berbicara
Melatih kecakapan berbicara pada anak kelas VI dilakukan melalui kegiatan menyampaikan pesan secara lisan sesuai dangan materi. Kegiatan menyampaikan pesan tersebut haruslah sesuai dengan lafal, intonasi dan konteks yang tepat.
c. Membaca
Keterampilan membaca yang dilatihkan atau diajarkan pada siswa kelas VI dilakukan melalui kegiatan membaca teks drama, membaca intensif, dan membaca sekilas.
d. Menulis
Selain mendengarkan, berbicara dan membaca, siswa kelas VI juga dituntut untuk mampu menguasai keterampilan menulis sebagai aspek dalam keterampilan berbahasa.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui pengungkapan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk formulir, ringkasan, dialog, dan paraphrase maupun dalam bentuk naskah pidato dan surat resmi.
2. Komentar
Materi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II sudah meliputi keempat aspek keterampilan berbahasa baik yang bersifat produktif (berbicara, menulis) maupun yang bersifat reseptif (mendengarkan, membaca). Berdasarkan Kurikulum 2006 (KTSP) siswa kelas II dituntut untuk mampu menguasai keempat aspek keterampilan berbahasa melalui materi Pembelajaran Bahasa Indonesia.
Materi-materi tersebut dapat dikembangkan oleh guru atau pihak sekolah, karena pada Kurikulum 2006 (KTSP) pengembangan materi, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian sepenuhnya diserahkan kepada guru atau pihak sekolah disesuaikan dengan kebutuhan. Dan KTSP sendiri mengenal diversifikasi kurikulum artinya kurikulum bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi kepada kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat lingkungan sekolah.
Dalam pembelajaran tematik di kelas II khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia masih terdapat banyak kesulitan diantaranya:
a. Siswa masih sulit menceritakan sebuah cerita dengan kata-kata atau kalimat sendiri.
b. Siswa belum mampu menggunakan pilihan kata yang tepat dan santun dalam berkomunikasi lisan.
c. Siswa belum mampu menjawab pertanyaan sesuai dengan isi bacaan.
Model Menyimak

Model Menyimak

Simak-Tulis-Baca

Teknik simak-tulis-baca digunakan untuk meningkatkan dan menguji daya simak siswa. Mula-mula guru membacakan sebuah kalimat, siswa disuruh menyimak kalimat yang dibacakan oleh guru. Setelah itu, siswa harus menuliskan kalimat yang telah disimaknya kemudian membaca hasil dari simakan tersebut.

Langkah-langkah pembelajaran:

1.Guru menyebutkan sebuah kalimat yang utuh.
Contoh: ibu pergi ke pasar.

2.Siswa menyimak kalimat yang dibacakan guru.
3.Siswa menulis kalimat yang yang telah disimaknya.
4.Siswa membacakan kalimat yang ditulis dari hasil simakannya.
Aliran Sastra

Aliran Sastra

Supernaturalisme dan Naturalisme serta Idealisme dan Materialisme

Istilah-istilah naturalis, materialis, dan idealis, adalah istilah-istilah yang digunakan di kalangan ilmu filsafat sebagai suatu paham, pandangan, atau falsafah hidup yang akhirnya di kalangan ilmu sastra merupakan aliran yang dianut seseorang dalam menghasilkan karyanya. Aliran dalam karya sastra biasanya terlihat pada periode tertentu. Setiap periode sastra biasanya ditandai oleh aliran yang dianut para pengarang pada masa itu. Bahkan unsur aliran yang
menjadi mode pada periode tertentu merupakan ciri khas karya sastra yang berada pada masa tersebut.
Masalah aliran sebagai pokok pandangan hidup, berangkat dari paham yang dikemukakan para filosof dalam menghadapi kehidupan alam semesta ini. Tafsiran yang mula-mula diberikan oleh manusia terhadap alam ini ada dua macam, yaitu supernatural dan natural. Penganut paham-paham tersebut dinamakan supernaturalisme dan naturalisme. Paham supernatural mengemukakan bahwa di dalam alam ini terdapat wujud-wujud yang bersifat gaib yang bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa daripada alam nyata yang mengatur kehidupan alam sehingga menjadi alam yang ditempati sekarang ini. Kepercayaan animisme dan dinamisme merupakan kepercayaan yang paling tua usianya dalam sejarah perkembangan kebudayaan manusia yang berpangkal pada paham supernaturalisme dan masih dianut oleh beberapa masyarakat di muka bumi ini.
Sebagai lawan dari paham supernatural adalah naturalisme yang menolak paham supernatural. Paham ini mengemukakan bahwa gejala-gejala alam yang terlihat ini terjadi karena kekuatan yang terdapat di dalam alam itu sendiri yang dapat dipelajari dan dengan demikian dapat diketahui. Paham ini juga mengemukakan bahwa dunia sama sekali bergantung pada materi, kebendaan, dan gerak. Kenyataan pokok dalam kehidupan dan akhir kehidupan adalah materi, atau kebendaan.
Pada bidang seni terdapat pula kedua aliran besar tersebut dengan karakteristik yang berbeda, yaitu aliran idealisme dan materialisme. Idealisme adalah aliran yang menilai tinggi angan-angan (idea) dan cita-cita (ideal) sebagai hasil perasaan daripada dunia nyata. Aliran ini pada awalnya dikemukakan oleh Socrates (469-399 sM.) yang dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Plato (427-347 sM.). Dalam bidang seni rupa pelukis yang beraliran idealisme cenderung lebih suka mewujudkan benda-benda sebaik mungkin daripada apa adanya. Dalam ilmu kesusilaan idealisme mengandung pandangan hidup di mana rohani mewujudkan kekuatan yang berkuasa dan menjelaskan bahwa semua benda di dalam alam dan pengalaman adalah perwujudan pikiran, pandangan yang nyata.
Lawan aliran idealisme adalah aliran materialisme. Aliran ini mengemukakan bahwa dunia sama sekali bergantung pada materi dan gerak. Ajaran ini sudah dikemukakan oleh Democrates pada abad ke-4 sM, yang mengatakan bahwa semua kejadian yang gaib, dan ajaib di alam ini digerakkan oleh atom dan keluasan geraknya. Tidak ada kekuatan gaib yang bersifat supernatural yang mengatur kehidupan ini.
Di dalam bidang seni, seni rupa dan seni pahat, aliran materialisme atau naturalisme ini disebut juga dengan aliran realisme, yaitu bentuk lukisan yang diciptakan menurut keadaan alam yang sebenarnya yang berdasarkan atas faktor-faktor perspektif, proporsi, warna, sinar, dan bayangan. Sedangkan di dalam seni sastra aliran materialisme atau naturalisme ini merupakan kelanjutan dari aliran realisme.

Idealisme dan Aliran Lainnya dalam Karya Sastra

Aliran-aliran yang terdapat di dalam karya sastra tidak dapat di- “cap”-kan sepenuhnya kepada seorang pengarang. Sutan Takdir Alisyahbana, misalnya dalam karyanya ia idealis tetapi juga romantis, sehingga ia juga dikenal sebagai seorang yang beraliran romantis-idealis.
Dalam aliran idealisme terdapat aliran romantisme, simbolisme, ekspresionisme, mistisisme, dan surealisme. Sedangkan yang termasuk ke dalam aliran materialisme ialah aliran realisme, naturalisme, impresionisme, serta determinisme. Aliran lain yang berpandangan ke arah manusia sebagai pribadi yang unik dikenal sebagai aliran eksistensialisme.
Aliran idealisme adalah aliran di dalam filsafat yang mengemukakan bahwa dunia ide,dunia cita-cita, dunia harapan adalah dunia utama yang dituju dalam pemikiran manusia. Dalam dunia sastra, idealisme berarti aliran yang menggambarkan dunia yang dicita-citakan, dunia yang diangan-angankan, dan dunia harapan yang masih abstrak yang jauh jangka waktu pencapaiannya. Di dalamnya digambarkan keindahan hidup yang ideal, yang menyenangkan, penuh kedamaian, kebahagiaan, ketenteraman, adil makmur dan segala sesuatu yang menggambarkan dunia harapan yang sesuai dengan tuntutan batin yang menyenangkan yang tidak lagi adanya keganasan, kecemasan, kemiskinan, penindasan, ketidakadilan, keterbelakangan, yang menyusahkan dan menyengsarakan batin. Sastrawan Indonesia yang dikenal sebagai seorang yang idealis baik di dalam novel maupun puisinya ialah Sutan Takdir Alisyahbana.
Aliran romantisme ini menekankan kepada ungkapan perasaan sebagai dasar perwujudan pemikiran pengarang sehingga pembaca tersentuh emosinya setelah membaca ungkapan perasaannya. Untuk mewujudkan pemikirannya, pengarang menggunakan bentuk pengungkapan yang seindah-indahnya dan sesempurna-sempurnanya. Aliran romantisme biasanya dikaitkan dengan masalah cinta karena masalah cinta memang membangkitkan emosi. Tetapi anggapan demikian tidaklah selamanya benar.
Simbolisme adalah aliran kesusastraan yang penyajian tokoh-tokohnya bukan manusia melainkan binatang, atau benda-benda lainnya seperti tumbuh-tumbuhan yang disimbolkan sebagai perilaku manusia. Binatang-binatang atau tumbuh-tumbuhan diperlakukan sebagai manusia yang dapat bertindak, berbicara, berkomunikasi, berpikir, berpendapat sebagaimana halnya manusia. Kehadiran karya sastra yang beraliran simbolisme ini biasanya ditentukan oleh situasi yang tidak mendukung pencerita atau pengarang berbicara. Pada masyarakat lama, misalnya di mana kebebasan berbicara dibatasi oleh aturan etika moral yang mengikat kebersamaan dalam kelompok masyarakat, pandangan dan pendapat mereka disalurkan melalui bentuk-bentuk peribahasa atau fabel.
Aliran ekspresionisme adalah aliran dalam karya seni, yang mementingkan curahan batin atau curahan jiwa dan tidak mementingkan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang nyata. Ekspresi batin yang keras dan meledak-ledak. biasa dianggap sebagai pernyataan atau sikap pengarang. Aliran ini mula-mula berkembang di Jerman sebelum Perang Dunia I, Pengarang Indonesia yang dianggap ekspresionis ialah Chairil Anwar.
Mistisisme adalah aliran dalam kesusastraan yang mengacu pada pemikiran mistik, yaitu pemikiran yang berdasarkan kepercayaan kepada Zat Tuhan Yang Maha Esa, yang meliputi segala hal di alam ini. Karya sastra yang beraliran mistisisme ini memperlihatkan karya yang mencari penyatuan diri dengan Zat Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Tuhan Semesta Alam. Pada masa kesusastraan Klasik dikenal Raja Ali Haji dengan Gurindam Dua Belas-nya yang sarat dengan ajaran mistik. Pada karya-karya sastra sekarang ini yang memperlihatkan aliran mistik, misalnya Abdul Hadi W.M., Danarto, dan Rifai Ali.
Surealisme adalah aliran di dalam kesusastraan yang banyak melukiskan kehidupan dan pembicaraan alam bawah sadar, alam mimpi. Segala peristiwa yang dilukiskan terjadi dalam waktu yang bersamaan dan serentak. Aliran ini dipengaruhi oleh Sigmund Freud (1856-1939) ahli psikiatri Austria yang dikenal dengan psikoanalisisnya terhadap gejala histeria yang dialami manusia. Dia berpendapat bahwa gejala histeria traumatik yang dialami seseorang dapat disembuhkan melalui analisis kejiwaan yang dilakukan dengan kondisi kesadaran pasien, bukan dengan cara menghipnotis sebagaimana yang dilakukan oleh rekannya Breuer. Menurut Freud emosi yang terpendam itu bersifat seksual. Perbuatan manusia digerakkan oleh libido, nafsu seksual yang asli. Dengan menggali bawah sadar manusia, ia akan dapat dikembalikan kepada kondisinya semula.

Realisme dan Aliran Lainnya dalam Karya Sastra

Realisme adalah aliran dalam karya sastra yang berusaha melukiskan suatu objek seperti apa adanya Pengarang berperan secara objektif. Dalam keobjektifanlah ia melihat keindahan objek yang dibidiknya dan dihasilkan di dalam karya sastra. Pengarang tidak memasukkan ide, pikiran, tanggapan dalam menghadapi objeknya. Gustaf Flaubert seorang pengarang realisme Perancis mengemukakan bahwa objektivitas pengarang sangat diperlukan dalam menghasilkan karyanya. Objek yang dibidik pengarang sebagai objek ceritanya tidak hanya manusia dengan beragam karakternya, ia juga dapat berupa binatang, alam, tumbuh-tumbuhan, dan objek lainnya yang berkesan bagi pengarang sebagai sumber inspirasinya.
Impresionisme berarti aliran dalam bidang seni sastra, seni lukis, seni musik yang lebih mengutamakan kesan tentang suatu objek yang diamati dari pada wujud objek itu sendiri. Di bidang seni lukis, aliran ini bermula di Perancis pada akhir abad ke-l9.. Di dalam seni sastra aliran impresionisme tidak berbeda dengan aliran realisme, hanya pada impresionisme yang dipentingkan adalah kesan yang diperoleh tentang objek yang diamati penulis. Selanjutnya, kesan awal yang diperoleh pengarang diolah dan dideskripsikan menjadi visi pengarang yang sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu.
Karya sastra yang beraliran impresionisme pada umumnya terdapat pada masa angkatan Pujangga Baru, masa Jepang, yang pada masa itu kebebasan berekspresi tentang cita-cita, harapan, ide belum dapat disalurkan secara terbuka. Semua idealisme disalurkan melalui bentuk yang halus yang maknanya terselubung.
Pengarang Indonesia yang karyanya bersifat impresif antara lain ialah Sanusi Pane, dengan puisi-puisinya Candi, Teratai, Sungai, Abdul Hadi W.M., dan W.S Rendra.
Aliran naturalisme adalah aliran yang mengemukakan bahwa fenomena alam yang nyata ini terjadi karena kekuatan alam itu sendiri yang berinteraksi sesamanya. Kebenaran penciptaan alam ini bersumber pada kekuatan alam (natura). Di dalam seni lukis aliran naturalisme ini dimaksudkan sebagai karya seni yang menampilkan keadaan alam apa adanya, berdasarkan faktor perspektif, proporsi sinar, dan bayangan. Di dalam karya sastra aliran naturalisme adalah aliran yang juga menampilkan peristiwa sebagaimana adanya. Karena itu ia tidak jauh berbeda dengan realisme. Hanya saja, kalau realisme menampilkan objek apa adanya yang mengarah kepada kesan positif, kesan yang menyenangkan, sedangkan naturalisme sebaliknya.
Dalam kesusastraan Barat, yang dikenal sebagai tokoh naturalis ialah Emil Zola (1840-1902) pengarang Perancis. Dalam karyanya gambaran kemesuman, pornografi digambarkan apa adanya. Aliran seni untuk seni (l’art pour art’) melatarbelakangi pandangannya dalam berkarya. Di Indonesia pengarang yang karyanya cenderung beraliran naturalisme adalah Armijn Pane dengan novel Belenggu-nya, Motinggo Busye pada awal-awal novelnya tahun 60-an dan 70-an bahkan memperlihatkan novel yang dikategorikan pornografis. Novel Saman (l998) karya Ayu Utami juga memperlihatkan kecenderungan ke arah naturalis.
Determinisme ialah aliran dalam kesusastraan yang merupakan cabang dari naturalisme yang menekankan kepada takdir sebagai bagian dari kehidupan manusia yang ditentukan oleh unsur biologis dan lingkungan. Takdir yang dialami manusia bukanlah takdir yang ditentukan oleh yang Mahakuasa melainkan takdir yang datang menimpa nasib seseorang karena faktor keturunan dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya.

Eksistensialisme dalam Karya Sastra

Di samping aliran-aliran yang telah dibicarakan sebelumnya, terdapat pula aliran kesusastraan yang berkembang akhir-akhir ini, yaitu aliran eksistensialisme. Aliran ini adalah aliran di dalam filsafat yang muncul dari rasa ketidakpuasan terhadap dikotomi aliran idealisme dan aliran materialisme dalam memaknai kehidupan ini. Aliran idealisme yang hanya mementingkan ide sebagai sumber kebenaran kehidupan dan materialisme yang menganggap materi sebagai sumber kebenaran kehidupan, mengabaikan manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai keberadaan sendiri yang tidak sama dengan makhluk lainnya. Idealisme melihat manusia hanya sebagai subjek, hanya sebagai kesadaran, sedangkan materialisme melihat manusia hanya sebagai objek. Materialisme lupa bahwa sesuatu di dunia ini disebut objek karena adanya subjek. Eksistensialisme ingin mencari jalan ke luar dari kedua pemikiran yang dianggap ekstrem itu yang berpikiran bahwa manusia di samping ia sebagai subjek ia pun juga sekaligus sebagai objek dalam kehidupan ini (Ahmad Tafsir,1994 hal 193).
Kata eksistensi berasal dari kata exist, bahasa Latin yang diturunkan dari kata ex yang berarti ke luar dan sistere berarti berdiri. Jadi eksistensi berarti berdiri dengan ke luar dari diri sendiri. Pikiran seperti ini dalam bahasa Jerman dikenal dengan dasei. Dengan ia ke luar dari dirinya, manusia menyadari keberadaan dirinya, ia berada sebagai aku atau sebagai pribadi yang menghadapi dunia dan mengerti apa yang dihadapinya dan bagaimana menghadapinya. Dalam menyadari keberadaannya, manusia selalu memperbaiki, atau membangun dirinya, ia tidak pernah selesai dalam membangun dirinya.
Filsuf yang pertama mengemukakan eksistensi manusia ialah Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855) dari Denmark, kemudian Jean Paul Satre (1905-1980) filsuf Perancis yang menyebabkan eksistensialisme menjadi terkenal. Menurut Satre karena manusia menyadari bahwa dia ada, yang berarti manusia menyadari pula bahwa ia menghadapi masa depan. Karenanya manusia sebagai individu mempunyai tanggung jawab terhadap masa depan dirinya sendiri dan tanggung jawab terhadap manusia secara keseluruhan. Akibatnya, orang eksistensialisme berpendapat bahwa salah satu watak keberadaan manusia adalah rasa takut yang datang dari kesadaran tentang wujudnya di dunia ini. Sebagai manusia yang mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan terhadap manusia lainnya di dunia ini, mereka bebas menentukan, bebas memutuskan dan sendiri pula memikul akibat keputusannya tanpa ada orang lain atau sesuatu yang bersamanya. Dari konsepnya ini timbul pemikiran bahwa nasib manusia ditentukan oleh dirinya sendiri dengan tidak bantuan sedikit pun dari yang lain. Akibatnya, manusia selalu hidup dalam rasa sunyi, cemas, putus asa, dan takut serta selalu dipenuhi bayangan harapan yang tak pernah terwujud dan berakhir.
Karena dasar eksistensialisme ini adalah ide tentang keberadaan manusia, maka aliran ini tidak mementingkan gaya bahasa yang khas yang mencerminkan aliran tertentu, melainkan menekankan kepada pandangan pengarang terhadap kehidupan dan keberadaan manusia. Dalam perkembangannya, aliran eksistensialisme berkembang menjadi dua jalur, yaitu eksistensialisme yang ateistis dan eksistensialisme yang theistis. Eksistensialisme yang ateistis dikembangkan oleh Jean Paul Sartre dan eksistensialisme yang theistis dikembangkan oleh Gabriel Marcel. Dia menyatakan dengan tegas bahwa semua eksistensi adalah kenyataan karena adanya Tuhan. Manusia tidak mungkin ada kalau tidak ada Tuhan yang menciptakannya, dan konkretisasi alam dunia ini merupakan bukti nyata dari keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, keberadaan manusia di alam ini harus kembali ke jalan Tuhan dan mewujudkan pujian kepada Tuhan.
Di dalam kesusastraan Indonesia, eksistensialisme ini terlihat pada novel-novel karya Iwan Simatupang, seperti Ziarah, Merahnya Merah, dan Kering, Dalam karyanya, Iwan Simatupang memperlihatkan manusia sebagai tamu di dunia ini. Sebagai tamu, ia datang, dan pergi lagi. Manusia gelisah, tidak punya rumah, selalu berada dalam perjalanan dan berlangitkan relativisme-relativisme.
Pendekatan Pembelajaran Bhs Indonesia Masa Depan

Pendekatan Pembelajaran Bhs Indonesia Masa Depan

Saat ini, pembelajaran yang berorientasi pada potensi dan kebutuhan siswa menjadi perhatian utama ahli pendidikan Pendekatan pengajaran yang menempatkan guru sebagai sentral kegiatan belajar-mengajar sedikit-demi sedikit mulai ditinggalkan. Arah angin berpihak pada suatu sistem pendidikan yang menempatkan siswa pada posisi ‘diberdayakan’ secara maksimal yaitu mendidik mereka berdasarkan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Filosofi itulah salah satunya yang mendasari pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (competency-base curriculum).
Beberapa kecenderungan pemikiran dalam teori belajar yang mendasari filosofi pembelajaran berbasis kompetensi antara lain berikut ini.
1. Belajar tidak hanya sekedar menghapal, tetapi siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dan kemampuan di benak mereka sendiri.
2. Anak belajar dari mengalami, yaitu anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.
3. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subject matter).
4. Pengetahuan tidak dapat dipisah-dipisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
5. Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
6. Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit), sedikit demi sedikit.
7. Penting bagi siswa tahu ‘untuk apa’ ia belajar, dan ‘bagaimana’ ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.
8. Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.
9. Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Untuk itu perlu dipahami, strategi belajar yang salah dan terus-menerus dipajankan akan mempengaruhi struktur otak, yang pada akhirnya mempengaruhi cara seseorang berperilaku.
Dalam kelas KBK, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru Guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (baca: pengetahuan dan keterampilan) datang dari ‘menemukan sendiri’, bukan dari ‘apa kata guru’. Filsafat belajar yang mendasari pemikiran itu adalah konstruktivisme. Begitulah peran guru di kelas yang berbasis konstruktivisme.
Pendekatan belajar yang berasaskan konstruktivisme antara lain
1. pendekatan kontekstual,
2. life-skills education,
3. pendekatan CBSA,
4. pendekatan inkuiri,
5. pendekatan pemecahan masalah
6. pendekatan proses,
7. pendekatan kuantum (Quantum Teaching and Learning),
8. authentic instruction,
9. pendekatan kooperatif, dan
10. work-based learing.
Ciri pembelajaran yang kontruktivistik telah antara lain berikut ini.
1. Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
2. Keterampilan dikembangan atas dasar pemahaman.
3. Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri, berdasarkan motivasi intrinsik.
4. Seseorang berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya.
5. Pembelajaran bahasa dilakukan dengan pendekatan komunikatif, yaitu siswa diajak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dalam konteks nyata.
6. Siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran.
7. Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangan oleh manusia itu sendiri, dengan cara memberi makna pada pengalamannya. Oleh karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan (dikonstruksi) oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu tidak pernah stabil, selalu berkembang (tentative & incomplete)
8. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi.
9. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber.
10. Pembelajaran terjadi di berbagai konteks dan setting (Zahorik, 1995).
Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikn pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’ pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru.
Menurut Johnson (2002:24), ada delapan komponen utama dalam sistem pembelajaran yang ideal, seperti dalam rincian berikut.
1. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections)
Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (learning by doing).
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work)
Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.
3. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning)
Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan: ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produknya/hasilnya yang sifatnya nyata.
4. Bekerja sama (collaborating)
Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
5. Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking)
Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif: dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti-bukti.
6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual)
Siswa memelihara pribadinya: mengetahui, memberi perhatian, memiliki harapan-harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa. Siswa menghormati temannya dan juga orang dewasa.
7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards):
Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi: mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut “excellence”.
8. Menggunakan penilaian otentik (using authentic assessment)
Siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna. Misalnya, siswa boleh menggambarkan informasi akademis yang telah mereka pelajari dalam pelajaran sains, kesehatan, pendidikan, matematika, dan pelajaran bahasa Inggris dengan mendesain sebuah mobil, merencanakan menu sekolah, atau membuat penyajian perihal emosi manusia.
Sementara itu, The Northwest Regional Education Laboratory USA mengidentifikasikan adanya enam kunci dasar dari pembelajaran yang ideal.
1. Pembelajaran bermakna: pemahaman, relevansi dan penilaian pribadi sangat terkait dengan kepentingan siswa di dalam mempelajari isi materi pelajaran. Pembelajaran dirasakan terkait dengan kehidupan nyata atau siswa mengerti manfaat isi pembelajaran, jika mereka merasakan berkepentingan untuk belajar demi kehidupannya di masa mendatang. Prinsip ini sejalan dengan pembelajaran bermakna (meaningful learning) yang diajukan oleh Ausuble.
2. Penerapan pengetahuan: adalah kemampuan siswa untuk memahami apa yang dipelajari dan diterapkan dalam tatanan kehidupan dan fungsi di masa sekarang atau di masa depan.
3. Berpikir tingkat tinggi: siswa diwajibkan untuk memanfaatkan berpikir kritis dan berpikir kreatifnya dalam pengumpulan data, pemahaman suatu isu dan pemecahan suatu masalah.
4. Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar: Isi pembelajaran harus dikaitkan dengan standar lokal, provinsi, nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dunia kerja.
5. Responsif terhadap budaya: guru harus memahami dan menghargai nilai, kepercayaan, dan kebiasaan siswa, teman, pendidik dan masyarakat tempat ia mendidik. Ragam individu dan budaya suatu kelompok serta hubungan antar budaya tersebut akan mempengaruhi pembelajaran dan sekaligus akan berpengaruh terhadap cara mengajar guru. Setidaknya ada empat hal yang perlu diperhatikan di dalam pembelajaran kontekstual, yaitu individu siswa, kelompok siswa baik sebagai tim atau keseluruhan kelas, tatanan sekolah dan besarnya tatanan komunitas kelas.
6. Penilaian autentik: penggunaan berbagai strategi penilaian (misalnya penilaian proyek/tugas terstruktur, kegiatan siswa, penggunaan portofolio, rubrik, daftar cek, pedoman observasi, dan sebagainya) akan merefleksikan hasil belajar sesungguhnya.
Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar dan menengah diarahkan sebagai sarana pembinaan dan kesatuan bangsa, peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia siswa, sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia untuk berbagai keperluan, dan sarana pengembangan penalaran. Tujuan ‘idealis’ itu selanjutnya diturunkan ke dalam tujuan umum: (1) siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara; (2) siswa memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta menggunakannya dengan tepat untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan; (3) siswa menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual (berpikir kreatif, menggunakan akal sehat, menerapkan pengetahuan yang berguna, dan memecahkan masalah), kematangan emosional dan sosial; dan (4) siswa mampu menikmati, memahami, dan memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
Pembelajaran sastra, secara umum akan menjadi sarana pendidikan moral. Kesadaran moral dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai sumber. Selain berdialog dengan orang-orang yang sudah teruji kebijaksanaannya, sumber-sumber tertulis seperti biografi, etika, dan karya sastra dapat menjadi bahan pemikiran dan perenungan tentang moral. Karya sastra yang bernilai tinggi di dalammnya terkandung pesan-pesan moral yang tinggi. Karya ini merekam semangat zaman pada suatu tempat dan waktu tertentu yang disajikan dengan gagasan yang berisi renungan falsafi. Sastra seperti ini dapat menjadi medium untuk menggerakkan dan mengangkat manusia pada harkat yang lebih tinggi. Karya sastra tersebut dapat berupa prosa fiksi, puisi, maupun drama.
Ke depan, pembelajaran sastra dikembangkan untuk mencapai tujuan-tujuan ideal seperti itu. Melalui pembelajaran sastra, anak diharapkan menjadi warga yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang luhur.
Lalu, dalam konteks kecenderungan pemikiran seperti itu, bagaimanakah seharusnya pembelajaran bahasa Indonesia dikemas? Pendekatan pembelajaran yang bagaimanakah yang tepat untuk diterapkan?
Mengikuti pandangan di atas, pengajaran bahasa Indonesia seharusnya dikembalikan pada kedudukan yang sebenarnya, yaitu melatih siswa membaca, menulis, berbicara, mendengarkan, dan mengapresiasi sastra yang sesungguhnya. Tugas guru adalah melatih siswa membaca sebanyak-banyaknya, menulis sebanyak-banyaknya, berdiskusi sebanyak-banyaknya. Artinya, guru harus menghindari pengajaran yang berisi pengetahuan tentang bahasa Indonesia (using the language, bukan talk about the language). Apa yang diajarkan seharusnya dekat dengan kebutuhan berbahasa Indonedia siswa.
Pengajaran bahasa Indonesia dijalankan melalui pendekatan komunikatif, pendekatan tematis, dan pendekatan terpadu. Pendekatan komunikatif mengisyaratkan agar pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar dan menengah diorientasikan pada penguasaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi (bukan pembekalan pengetahuan kebahasaan saja). Pendekatan tematis menyarankan agar pembelajaran bahasa diikat oleh tema-tema yang dekat dengan kehidupan siswa, yang digunakan sebagai sarana berlatih membaca, mendengarkan, menulis, dan berbicara. Pendekatan terpadu menyarankan agar pengajaran bahasa Indonesia didasarkan pada wawasan Whole Language, yaitu wawasan belajar bahasa yang intinya menyarankan agar kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia dilaksanakan terpadu antara membaca, mendengarkan, menulis, dan berbicara. Dengan konsep itu, dalam jangka panjang, target penguasaan kemahirwacanaan itu bisa tercapai.
Prinsip yang mendasari guru mengajarkan bahasa Indonesia sebagai sebuah keterampilan, antara lain pengintegrasian antara bentuk dan makna, penekanan pada kemampuan berbahasa praktis, dan interaksi yang produktif antara guru dengan siswa. Prinsip pertama menyarankan agar pengetahuan dan keterampilan berbahasa yang diperoleh, berguna dalam komunikasi sehari-hari (meaningful). Dengan kata lain, agar dihindari penyajian materi (khususnya kebahasaan) yang tidak bermanfaat dalam komunikasi sehari-hari, misalnya, pengetahuan tata bahasa bahasa Indonesia yang sangat linguistis. Prinsip kedua menekankan bahwa melalui pengajaran bahasa Indonesia, siswa diharapkan mampu menangkap ide yang diungkapkan dalam bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis, serta mampu mengungkapkan gagasan dalam bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis. Penilaian hanya sebagai sarana pembelajaran bahasa, bukan sebagai tujuan. Sedangkan prinsip ketiga mengharapkan agar di kelas bahasa tercipta masyarakat pemakai bahasa Indonesia yang produktif. Tidak ada peran guru yang dominan. Guru diharapkan sebagai ‘pemicu’ kegiatan berbahasa lisan dan tulis. Peran guru sebagai orang yang tahu atau pemberi informasi pengetahuan bahasa Indonesia agar dihindari.
Bahasa, di sekolah, sebagai alat untuk mengajar dan belajar. Melalui penggunaan bahasa, guru mengomunikasikan apa yang diajarkan dan siswa mengekspresikan apa yang mereka pelajari (DeStefano, 1984:155). Untuk berhasil di dalam kelas, siswa harus belajar membaca, menulis, dan menghitung. Kemudian, keberhasilan di sekolah juga ditentukan oleh oleh keterampilan akademik dan interaksional. Ketepatan informasi harus disalurkan dengan menggunakan bahasa yang tepat pula. Jadi belajar membaca dan menulis diperlukan untuk menyelesaikan sebagian besar tugas bagi siswa (DeStefano, 1984:156-157). Pertumbuhan kognitif adalah sebuah fungsi literasi. Kemampuan menulis mendorong pertumbuhan kognitif dan sebaliknya kognisi tumbuh bersama kemampuan menulis.
Di dalam berkolaborasi dengan guru ketika merencanakan, mengerjakan, dan melaporkan proyek misalnya, siswa secara simultan belajar berbahasa, belajar melalui bahasa, dan belajar tentang bahasa. Mereka belajar berbahasa dengan menggunakan bahasa melalui mendengar, membaca, berdiskusi, dan membuat suatu perencanaan (menulis). Mereka juga belajar melalui bahasa, yakni ketika mempelajari dunia perkebunan misalnya dari buku-buku atau bacaan. Peristiwa mengobservasi dan kemudian melaporkannya adalah contoh belajar melalui bahasa.
Dengan belajar melalui bahasa, isi pelajaran dan bahasa secara simultan dipelajari. Meringkas pengalaman juga contoh belajar melalui bahasa. Lebih lanjut, kegiatan merencanakan kebun misalnya, sekaligus mencakup tiga aspek belajar bahasa secara simultan tanpa pengajaran secara langsung (melalui mata pelajaran bahasa). Guru memberikan konteks sosial dan intelektual yang mendukung pembelajaran dan penggunaan bahasa. Dalam kaitan ini, sesungguhnya guru merencanakan peristiwa literasi (literacy event) yang membuat siswa akrab untuk berpartisipasi secara mandiri. Tegasnya, dalam berbagai kesempatan, formal atau informal, guru menciptakan situasi dan siswa diberi pengalaman belajar berbahasa. Mereka membangun pemahaman terhadap dunia mereka melalui menyimak dan membaca dan mempresentasikannya melalui berbicara dan menulis (Platt, 1989).
Khusus mengenai kegiatan menulis, ia mempunyai posisi tersendiri dalam kaitannya dengan upaya membantu siswa mengembangkan kegiatan berpikir dan pendalaman bahan ajar. Berdasarkan penyelidikannya terhadap guru, pembelajaran dan kegiatan menulis, menurut Raimes (1987), bertujuan (1) memberikan penguatan (reinforcement), (2) memberikan pelatihan (training), (3) membimbing siswa melakukan peniruan atau imitasi (imitation, (4) melatih siswa berkomunikasi (communication), (5) membuat siswa lebih lancar dalam berbahasa (fluency), dan (6) menjadikan siswa lebih giat belajar (learning). Keenam tujuan pedagogis menulis itu secara berurutan dijelaskan berikut ini.
Pertama, menulis untuk memberi penguatan hasil belajar bahasa (writing for reinforcement). Tujuan pedagogis yang pertama ini mengarah kepada penguatan pemahaman unsur dan kaidah bahasa oleh siswa melalui penggunaan bahasa secara tertulis.
Kedua, menulis untuk memberi pelatihan penggunaan bahasa (writing for training). Tujuan pemberian pelatihan melalui menulis ini tidak terbatas pada pelatihan penggunaan bahasa (retorika dan struktur gramatika) dengan berbagai variasinya, tetapi juga dalam mengemukakan gagasan.
Ketiga, menulis untuk melakukan peniruan (imitasi) penggunaan retorik dan sintaktik (writing for imitation). Tujuan pedagogis ketiga ini mengarah pada upaya untuk meng-akrabkan siswa dengan aspek retorik dan sintaktik dalam menulis. Gaya pengungkapan gagasan dari wacana yang dibaca juga dapat “ditiru” untuk belajar.
Keempat, menulis untuk berlatih berkomunikasi (writing for communication). Melalui menulis siswa akan belajar berkomunikasi secara tertulis dalam kegiatan yang nyata. Pengalaman ini diharapkan juga memberi sumbangan dalam pengembangan kemampuan berkomunikasi secara lisan.
Kelima, menulis untuk meningkatan kelancaran (writing for fluency). Kelancaran yang dimaksud mencakup kelancaran dalam menggunakan unsur dan kaidah bahasa serta kelancaran dalam mengemukakan gagasan.
Terakhir, menulis untuk belajar (writing for learning). Tujuan pedagogis terakhir inilah yang sangat erat kaitannya dengan upaya pengembangan budaya belajar secara mandiri melalui membaca-berpikir-menulis. Menulis untuk belajar mempunyai makna yang sangat dalam untuk membuat siswa belajar secara benar dalam arti yang seluas-luasnya.
Kegiatan menulis ternyata mempunyai peranan penting bagi siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir dan mendalami bahan ajar. Oleh karena itu, sudah selayaknya apabila menulis menjadi aktivitas penting dalam setiap pembelajaran di sekolah. Itu berarti, perlu dikembangkan kegiatan menulis lintas kurikulum, mengingat: (1) menulis, selain membaca dan mendengar, bermanfaat untuk belajar, (2) menulis dapat membantu siswa mempelajari informasi baru dalam mata pelajaran yang sedang dipelajari, (3) menulis memfasilitasi strategi-strategi pemecahan masalah siswa untuk mengorganisasi informasi lama dan baru, (4) menulis dapat mengajarkan siswa konvensi pragmatik dan kesadaran akan mitra (tutur/tulis) dan mengembangkan proses penting agar mampu berkomunikasi secara berhasil, (5) menulis dapat mengajarkan siswa mengevaluasi kekritisannya terhadap informasi yang mereka pelajari, dan (6) menulis dapat mengajarkan kepada siswa bagaimana mereka menerima atau menganalisis pengalaman-pengalaman personal mereka sendiri (Beach, 1984:183-184). Alasan-alasan tersebut sejalan dengan upaya mengembangkan strategi heuristik pada siswa. Dengan demikian menulis merupakan kegiatan yang sangat penting untuk semua mata pelajaran mengingat melalui menulis siswa dapat belajar bagaimana belajar, yakni melalui bagaimana membuat generalisasi, definisi, dan menerapkan skematanya terhadap sesuatu yang sedang dipelajari. Menulis tidak hanya bergantung pada proses kognitif tetapi juga dapat memberi penguatan afektif terhadap proses membaca. Oleh karena itu, menulis sebagai alat belajar perlu mendapat perhatian serius di sekolah (Beach, 1984).
Guru dapat memberdayakan siswa menjadi berhasil dan independen dalam belajar dengan dua cara, (1) mendokumentasikan efektivitas pengajaran yang dilakukan guru untuk memperbaiki hasil belajar, dan (2) guru menjadi mitra (partner) siswa dalam belajar (Eanes, 1997:54). Dengan kata lain, siswa membaca dan menulis untuk tujuan mencari, belajar, dan menerapkan informasi (isi) pelajaran. Dalam waktu yang bersamaan siswa dapat mengembangkan keterampilan literasi, misalnya: mengembangkan strategi membaca efektif, kebiasaan belajar secara efisien, memanfaatkan kosakata secara maksimal, berpikir kritis, dan percaya diri dalam menulis. Sebagai hasilnya, melalui aktivitas literasi akan memberdayakan siswa untuk mengadakan eksplorasi, meneliti, dan menikmati isi pengetahuan menurut kebutuhan dan minat mereka sendiri sebagai pembelajar yang independen (Eanes, 1997:54).
Dengan demikian, menurut McKenna dan Robinson (1990), hal itu dapat memaksimalkan pemerolehan isi pelajaran. Meskipun isi pelajaran memungkinkan diajarkan secara berhasil melalui pengajaran lisan secara langsung, McKenna dan Robinson mengidentifikasi empat alasan penting mengapa aktivitas kemahirwacaaan perlu dikembangkan. Pertama, hasil dari aktivitas literasi sebagai komplemen bagi pengajaran lisan dan meluaskan perspektif siswa. Kedua, aktivitas literasi memberikan sebuah tindak lanjut alamiah terhadap pengajaran langsung mendorong guru untuk melayani kebutuhan dan minat individual siswa. Ketiga, metode-metode terkini mengenai pengajaran langsung mencakup fase praktik, dalam hal ini aktivitas literasi tampaknya sangat sesuai. Keempat, siswa akan mempunyai tantangan untuk mengembangkan literasi isi lebih luas dari pengetahuan yang diperoleh dari disiplin ilmu dengan keterbatasan ruang lingkup dan waktu pelajaran. Kelas-kelas mata pelajaran merupakan seting yang ideal untuk praktik pengembangan keterampilan literasi. Terakhir, aktivitas literasi memberikan fondasi penting bagi perkembangan literasi dan belajar sepanjang hayat (Eanes, 1997:55). Aktivitas literasi juga dapat menjadikan siswa sebagai pembaca yang efektif, penulis yang kompeten, pemikir yang kritis, dan pembelajar yang mandiri.
Guru yang memberi pengajaran dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan sendiri mengenai isi teks akan meningkatkan pembelajaran karena guru mendorong keaktifan siswa dengan melatih menyusun kembali teks dan membangun makna. Siswa yang dapat menjawab pertanyaannya sendiri akan dapat mengecek pemahamannya mengenai teks yang telah dibacanya (Palinscar, 2001). Melalui serangkaian proses pembelajaran yang kaya tersebut, diharapkan siswa akan dapat mengembangkan keterampilan berpikir dan sekaligus mendalami bahan ajar berbagai mata pelajaran yang sedang diikuti. Kedua hal tersebut sangat penting bagi siswa untuk keberhasilan belajarnya di sekolah. Dengan demikian, kegiatan menulis sebagai bagian dari aktivitas inti literasi perlu terus dikembangkan di sekolah melalui pembelajaran setiap mata pelajaran.
Agar tujuan tercapai, disarankan agar tugas-tugas (task) dan latihan dalam pembelajaran bahasa Indonesia dijalankan secara bervariasi, berselang-seling, dan diperkaya, baik materi maupun kegiatannya. Harus disadari benar oleh guru bahwa kegiatan berbahasa itu tak terbatas sifatnya. Membaca artikel, buku, iklan, brosur; mendengarkan pidato, laporan, komentar, berita; menulis surat, laporan, karya sastra, telegram, mengisi blangko; berbicara dalam forum, mewawancarai, dan sebagainya adalah contoh betapa luasnya pemakaian bahasa Indonesia itu.
Gambaran tujuan dan prinsip-prinsip pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia di atas sejauh ini masih jauh terapannya di kelas riil sekolah. Harapan bahwa dengan pembelajaran bahasa Indonesia anak-anak dapat membaca dengan baik, menulis dengan lancar, dan berbicara dengan sopan, baik, dan berani, masih ‘jauh panggang dari api’. Sebagian besar, guru masih berkutat pada penyampaian teori yang tak relevan dengan kebutuhan berkomunikasi. Permasalahan yang dihadapi pengajaran bahasa Indonesia masih kompleks dan perlu pembinaan terus-menerus. Masukan-masukan yang berupa laporan yang berasal dari keadaan nyata di sekolah akan sangat berarti bagi penentu kebijakan.
Saat ini, bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa pertama bagi sebagian besar siswa di Indonesia. Artinya, ketika masuk sekolah, siswa telah terpajani oleh lingkungan berbahasa Indonesia. Tugas guru adalah meningkatkan kemampuan itu melalui kegiatan berbahasa Indonesia nyata, bukan mengajarkan ilmu tentang bahasa Indonesia. Hanya, yang terjadi kemudian adalah (1) guru lebih banyak menerangkan tentang bahasa (form-focus), (2) tata bahasa sebagai bahan yang diajarkan, (3) keterampilan berbahasa nyata kurang diperhatkan, (4) membaca dan menulis sebagai sesuatu yang diajarkan, bukan sebagai media berkomunikasi dan berekspresi.
Penekanan pembelajaran bahasa Indonesia hanya pada tata bahasa, yang relevansinya dengan kebutuhan berbahasa kurang. Murid hanya menghafal jenis kata, pengertian kalimat, fungsi-fungsi awalan, dan beragam peribahasa usang. Lalu pertanyaannya, manakah kemampuan membaca dan menulis kreatif yang seharusnya dikuasai siswa melalui pengajaran bahasa Indonesia?
Sebaiknya, pengajaran bahasa Indonesia dikembalikan pada kedudukan yang sebenarnya, yaitu melatih siswa membaca sebanyak-banyaknya, menulis sebanyak-banyaknya, berdiskusi sebanyak-banyaknya. Misalnya, membaca berita, membaca cerpen, membaca iklan, menulis surat, menulis iklan baris, membuat laporan, mendengarkan berita, membacakan pengumuman, dan sejenisnya. Dengan demikian, PBI akan menjadi pelajaran yang menarik dan ‘berguna’. Jika tata bahasa harus diajarkan, sebenarnya hanya untuk menunjang kemampuan-kemampuan tersebut. Guru disarankan agar kembali berpegang pada sasaran tujuan pengajaran bahasa Indonesia, yaitu melatih siswa menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi berbahasa nyata. Materi-materi yang tingkat kebergunaannya rendah, seperti teori tata bahasa umum dan pengetahuan tentang tata bahasa sebaiknya dikurangi.
Kesulitan Siswa Membaca Permulaan

Kesulitan Siswa Membaca Permulaan

Membaca permulaan bertitik tolak dari siswa duduk di kelas I, karena mereka baru pertama kali duduk di bangku Sekolah Dasar. Kemudian tugas mengajarkan membaca kepada siswa ada pada guru. Dalam membaca permulaan diperlukan berbagai pendekatan membaca secara tepat, seperti dengan menggunakan metode eja, metode kata lembaga, metode global, serta metode Struktural Analitik dan Sintetik (SAS).

Pada tahap membaca permulaan siswa mulai diperkenalkan dengan berbagai simbol huruf, mulai dari simbol huruf /a/ sampai dengan /z/. Caranya bergantung teknik pendekatan yang digunakan guru, yaitu dapat dimulai dari pengolahan kata dari sebagian untuk seluruh atau dari seluruh kemudian dicerai menjadi bagian-bagian huruf yang terkecil. Mercer dalam Abdurrahman (1999:204) mengidentifikasikan bahwa ada 4 kelompok karakteristik siswa yang kurang mampu membaca permulaan, yaitu dilihat dari: (1) kebiasaan membaca, (2) kekeliruan mengenal kata, (3) kekeliruan pemahaman, dan (4) gejala-gejala serbaneka.

Siswa yang sulit membaca sering memperlihatkan kebiasaan dan tingkah laku yang tidak wajar. Gejala-gejala gerakannya penuh ketegangan seperti: (1) Mengernyitkan kening; (2) Gelisah; (3) Irama suara meninggi; (4) Menggigit bibir; (5) Adanya perasaan tidak aman yang ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau mencoba melawan guru.

Gejala-gejala tersebut muncul akibat dari kesulitan siswa dalam membaca. Indikator kesulitan siswa dalam membaca permulaan, antara lain: (1) siswa tidak mengenali huruf; (2) siswa sulit membedakan huruf; (3) siswa kurang yakin dengan huruf yang dibacanya itu benar; (4) siswa tidak mengetahui makna kata atau kalimat yang dibacanya.

Dari uraian di atasa dapat penulis simpulkan bahwa identifikasi kesulitan siswa dalam membaca permulaan dapat terlihat dari gejala-gejala perilaku dan gerakan-gerakan dalam menghadapi teks bacaan. Oleh karena itu untuk mengidentifikasikan kesulitan siswa ini, perlu suatu upaya dari guru kelas agar gejala-gejala tersebut dapat segera teratasi.

sumber : http://tarmizi.wordpress.com/